Kepala Badan Intelijen Keamanan Australia (ASIO), Mike Burgess, mengeluarkan peringatan keras mengenai ancaman teror yang berasal dari Iran. Peringatan ini muncul setelah ASIO mendeteksi rencana serangan bom molotov berskala besar yang menargetkan Sydney.
Burgess mengungkapkan bahwa pihaknya telah memperoleh informasi mengenai seorang warga negara Australia yang kini tinggal di Iran dan merupakan anggota senior Garda Revolusi Iran. Orang tersebut diduga telah merencanakan serangan teror ke wilayah Australia. Kekhawatiran juga meluas pada kelompok-kelompok Iran yang aktif di Eropa, yang dinilai berpotensi melancarkan serangan lebih lanjut di Australia.
Dalam pidatonya di Canberra, Burgess menjelaskan bahwa lembaganya mendeteksi keterlibatan kelompok Iran dalam serangan teror yang terjadi di Australia pada tahun 2024 lalu.
"Orang ini adalah agen senior Pasukan Quds IRGC, yang menjalankan jaringannya di seluruh dunia," kata Burgess, Rabu (24/6/2026).
Burgess menambahkan, seorang mantan warga negara Australia yang tinggal di Irak namun bekerja untuk Iran telah mengarahkan serangan bom molotov besar lainnya di Sinagoge Adass Israel di Melbourne tahun lalu. Akibat insiden tersebut, Australia mengambil langkah tegas dengan mengusir Duta Besar Iran.
Seorang tokoh kriminal Australia ditangkap pada bulan Januari setelah mendapat tekanan dari kepolisian Australia dan Irak. Burgess menjelaskan bahwa Iran merekrut orang tersebut melalui jaringan kompleks kelompok milisi yang berbasis di Irak.
"Karena menghargai kekayaan dan koneksi kriminalnya yang tinggi, IRGC melindunginya dan mendukung usaha ilegalnya," ujar Burgess.
Menurut Burgess, Iran masih memandang Australia sebagai target dan dapat "melakukan atau menginspirasi tindakan pembakaran, vandalisme, atau bahkan pembunuhan di tanah Australia".
Ia juga menyinggung insiden penembakan di Pantai Bondi yang dilakukan oleh seorang pembunuh ayah dan anak. Burgess menyebut peristiwa itu mengejutkan, tetapi tidak mengherankan jika melihat kondisi lingkungan keamanan global dan domestik yang terus memburuk.
Sejak 2014, ASIO telah menggagalkan 31 rencana terorisme besar. Burgess mencatat bahwa kasus-kasus terorisme kini semakin kompleks. Proses radikalisasi tidak lagi terjadi di tempat ibadah, melainkan di ruang obrolan daring dalam hitungan minggu, dan melibatkan individu yang semakin muda.
Artikel Terkait
Inggris Catat Rekor Suhu 35,8 Derajat Celcius, Peringatan Panas Ekstrem Dikeluarkan
USM Tembus Lima Besar Dunia dalam Peringkat Keberlanjutan THE 2026
Petani di Musi Rawas Terluka Diserang Beruang saat Bekerja di Kebun
Pelita Jaya Kalahkan Bogor Hornbills 74-61 di Final IBL 2026, Kunci Kemenangan Berkat Pertahanan Solid