Perempuan Aceh Hamil Disiksa hingga Melahirkan Prematur dan Tewas di Malaysia, Bayi Juga Diduga Dibunuh

- Rabu, 24 Juni 2026 | 10:10 WIB
Perempuan Aceh Hamil Disiksa hingga Melahirkan Prematur dan Tewas di Malaysia, Bayi Juga Diduga Dibunuh

Seorang perempuan asal Aceh Tamiang, Putri Hensy Aprilda (22), yang sedang hamil diduga menjadi korban pembunuhan di Malaysia. Ia disiksa dengan kejam hingga melahirkan secara prematur sebelum akhirnya meninggal dunia.

"Korban disiksa dengan sangat kejam. Perutnya dipijak dan dipukul berulang kali hingga akhirnya melahirkan sendiri sebelum waktunya. Dalam kondisi tersebut, bayi lahir berlumuran darah," kata Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman Haji Uma, Selasa (23/6/2026).

Informasi itu diperoleh setelah timnya bersama Gabungan Aceh Bersatu (GAB) Malaysia melakukan penelusuran dan pengurusan jenazah korban serta bayi di negeri jiran. Peristiwa itu terjadi pada 25 Maret di kawasan Klang, Selangor.

Penganiayaan yang dialami Putri berujung pada kelahiran prematur. Bayi yang lahir, menurut keterangan yang dihimpun, diduga turut disiksa hingga meninggal dunia. "Bayi itu tidak hanya sekali disakiti, tetapi diduga berulang kali diperlakukan secara kejam hingga akhirnya meninggal dunia," jelas Haji Uma.

Kasus ini pertama kali diketahui dari laporan KBRI Kuala Lumpur. Tim Gabungan Aceh Bersatu (GAB) di Malaysia kemudian menerima informasi bahwa Putri dan bayinya diduga dibunuh oleh seorang perempuan di kawasan Sepang, Selangor pada Rabu (3/6).

Jasad keduanya ditemukan di lokasi terpisah. Jenazah Putri kini berada di Rumah Sakit Serdang, Selangor, sementara bayinya di Rumah Sakit Shah Alam. Pelaku telah diamankan oleh otoritas Malaysia.

"Dari informasi yang kami terima melalui KBRI Kuala Lumpur, pelaku diduga seorang perempuan warga Malaysia. Saat ini pelaku sudah berhasil diamankan pada 19 Juni 2026 dan sedang menjalani proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku di Malaysia," ujar Haji Uma.

Putri diketahui berasal dari Desa Alur Manis, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang. Ia bekerja di Malaysia sebelum peristiwa tragis itu terjadi.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar