Puluhan Lagu Musisi Indonesia Digunakan Tanpa Izin untuk Latih AI, Afgan Angkat Bicara

- Rabu, 24 Juni 2026 | 07:30 WIB
Puluhan Lagu Musisi Indonesia Digunakan Tanpa Izin untuk Latih AI, Afgan Angkat Bicara

Puluhan lagu musisi Indonesia, mulai dari Dewa 19, Sheila On 7, Hindia, hingga Afgan, terbukti digunakan tanpa izin untuk melatih model kecerdasan buatan (AI). Temuan ini terungkap dalam investigasi jurnalis The Atlantic, Alex Reisner, melalui basis data interaktif AI Watchdog. Peristiwa ini memicu kekhawatiran baru di industri musik global mengenai eksploitasi data kreatif yang dilakukan tanpa persetujuan pemilik hak cipta.

Dataset terbaru bertajuk "Sleeping-DISCO-9M" menjadi sumber persoalan. Basis data ini berhasil menghimpun sedikitnya 9,7 juta trek musik yang diambil dari YouTube dan bank lirik Genius.com. Dari jumlah tersebut, karya-karya musisi tanah air ikut terseret tanpa sepengetahuan mereka. Ancaman ini tidak lagi hanya menyasar pesohor mancanegara, tetapi sudah mulai menggerogoti katalog musik lokal.

Menanggapi hal ini, solois pop Afgan mengaku pasrah. Ia menyadari bahwa begitu sebuah karya dirilis, kendali atasnya menjadi longgar. "Ya lagi-lagi itu sesuatu yang saya nggak bisa kontrol, karena once saya rilis satu lagu atau satu karya, ya itu sudah jadi public domain dan bisa diapapain saja. Bisa di-remix, bisa diedit, bisa di-wah bisa dimacem-macemin. Jadi salah satunya mungkin ya bisa jadi bahan buat AI ngebikin lagu baru gitu dengan suara saya," ujarnya saat ditemui di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, pada Selasa, 23 Juni 2026.

Meskipun warna vokal khasnya rentan ditiru dan dikloning oleh mesin untuk kepentingan monetisasi pihak lain, penyanyi berusia 37 tahun ini mengaku tidak terlalu ambil pusing. Ia optimistis pencinta musik saat ini sudah cukup cerdas untuk membedakan mana karya otentik hasil olah rasa manusia dan mana yang sekadar produk instan buatan AI. "Saya sih nggak terlalu worry kalau kayak gitu sih karena pasti semuanya tahu itu hanya apa ya sebatas AI saja, itu bukan satu karya yang saya rilis beneran kan. Jadi orang sekarang sudah bisa membedakan lah yang AI sama yang beneran kan?" lanjutnya.

Di tengah keseriusannya membahas isu hak kekayaan intelektual, Afgan sempat menyelipkan candaan. Ia mengaku sang ibunda kerap terkecoh oleh kecanggihan teknologi kloning suara. "Yang suka nggak bisa ngebedain cuma ibu saya sih. Nyokap saya susah ngebedain," tuturnya.

Lebih jauh, Afgan meyakini bahwa secanggih apa pun teknologi berkembang, sentuhan manusia tetap menjadi elemen utama yang membuat sebuah karya musik memiliki makna. Menurutnya, lagu yang mampu menyentuh emosi pendengar selalu lahir dari pengalaman personal seorang musisi. "Tapi saya yakin tetap butuh sentuhan manusia gitu. Ya terbuktilah maksudnya semua lagu sekarang yang kita suka, yang selalu kena di hati kita, itu pasti ciptaan manusia. Kalau lagu AI mungkin hanya akan menjadi backsound atau nggak akan menyentuh hati dan selalu punya cerita, itu pasti harus ada sosok manusianya," ujarnya.

Karena itu, ia mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan kehadiran AI di industri musik. Baginya, teknologi mungkin bisa meniru suara atau pola musik, tetapi belum mampu menggantikan pengalaman emosional yang lahir dari seorang musisi. "Jadi saya nggak terlalu khawatir sih," tutup Afgan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar