Iran dan AS Sepakati Pembentukan Empat Kelompok Kerja dalam Negosiasi di Swiss, Meski Trump Masih Beri Ancaman

- Selasa, 23 Juni 2026 | 21:05 WIB
Iran dan AS Sepakati Pembentukan Empat Kelompok Kerja dalam Negosiasi di Swiss, Meski Trump Masih Beri Ancaman

Iran dan Amerika Serikat akhirnya mencapai kesepakatan teknis dalam putaran negosiasi di Swiss. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump masih melontarkan ancaman, menandakan bahwa ketegangan antara kedua negara belum sepenuhnya mereda.

Kesepakatan tersebut memutuskan pembentukan empat kelompok kerja yang akan membahas isu-isu inti yang selama ini menjadi sumber sengketa. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa kelompok kerja itu mencakup penghentian sanksi, urusan nuklir, rekonstruksi dan pembangunan ekonomi, serta pemantauan dan implementasi. Pernyataan ini disampaikan oleh kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pada Selasa (23/6).

Dalam putaran pertama pembicaraan yang digelar di Swiss pada Senin (22/6), kedua pihak juga sepakat untuk membangun jalur komunikasi guna menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan mengakhiri pertempuran di Lebanon. Kesepakatan ini menjadi salah satu titik terang di tengah konflik berkepanjangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di republik Islam tersebut.

Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali Teheran. "Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional," kata Ghalibaf saat kembali dari pertemuan tersebut, seperti dilaporkan IRNA pada hari yang sama.

Dalam sebuah video yang diunggah ke akun Telegram pribadinya, Ghalibaf menyebut pembicaraan di resor mewah Swiss, Burgenstock, menghasilkan "pencapaian yang baik". Ia merinci bahwa diskusi mencakup Selat Hormuz, situasi di Lebanon, pengecualian minyak, serta pencairan dana yang selama ini dibekukan. "Menurut saya, perjalanan ini menghasilkan pencapaian yang baik," ujar ketua parlemen Iran itu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar