Kebiasaan mengonsumsi kopi susu gula aren atau minuman boba setiap hari kini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan. Pasalnya, kasus perlemakan hati atau yang dalam istilah medis disebut metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, khususnya mereka yang baru memasuki usia 30-an.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh penumpukan lemak di organ hati akibat gangguan metabolisme tubuh. Yang mengkhawatirkan, penyakit ini sering dijuluki sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas, hingga akhirnya hati mengalami kerusakan permanen.
"Banyak orang merasa sehat, tetapi saat diperiksa melalui USG atau tes enzim hati, sudah ditemukan perlemakan hati. Individu dengan obesitas, diabetes melitus, maupun gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami fatty liver," ujarnya.
Secara global, angka pengidap fatty liver diperkirakan telah menembus 30 persen dan terus meningkat. Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada orang dewasa melonjak tajam menjadi 23,4 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebanyak 36,8 persen penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami perut buncit atau obesitas sentral.
Menurut Widya, tingginya angka tersebut menjadi tanda bahaya dari maraknya gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi junk food dan makanan tinggi gula, kebiasaan rebahan, hingga stres berkepanjangan. Namun, ia mengingatkan bahwa fatty liver tidak hanya menyerang mereka yang kelebihan berat badan. Seseorang dengan berat badan normal tetapi memiliki perut buncit, gemar mengonsumsi makanan manis, dan jarang berolahraga tetap berada dalam kategori risiko tinggi.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak mudah tergiur oleh iklan suplemen atau produk teh detoks yang mengklaim mampu "membersihkan hati" secara instan. "Penggunaan obat-obatan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan pola hidup yang sehat. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengatasi fatty liver," ungkapnya.
Widya membagikan lima langkah pencegahan yang sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pertama, menurunkan berat badan. Penurunan bobot sebesar 5 hingga 10 persen saja terbukti efektif mengurangi lemak dan peradangan di hati. Kedua, menghentikan konsumsi gula cair, termasuk teh manis kemasan, kopi susu, boba, dan soda. WHO menganjurkan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen.
Ketiga, menerapkan pola makan gizi seimbang dengan konsep "isi piringku": setengah porsi sayur dan buah, seperempat protein, dan seperempat karbohidrat, serta menghindari gorengan dan makanan ultraproses. Keempat, aktif bergerak dengan meluangkan waktu 150 hingga 300 menit per minggu atau sekitar 30 menit setiap hari, ditambah latihan angkat beban dua kali seminggu untuk meningkatkan massa otot dan sensitivitas insulin. Kelima, rutin memeriksakan kesehatan dengan memantau lingkar perut, indeks massa tubuh (IMT), gula darah, kolesterol, dan bila perlu melakukan USG perut.
Lebih jauh, dr. Widya mengingatkan bahwa bibit penyakit ini sebenarnya sudah bisa dicegah sejak masa kanak-kanak dan remaja. Apalagi, anak muda saat ini sangat akrab dengan kebiasaan begadang, paparan layar yang berlebihan, dan jajan sembarangan. "Anak perlu dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, memperbanyak aktivitas luar ruang, mengurangi waktu layar, tidur cukup, serta membatasi konsumsi minuman manis dan makanan ultraproses," ujarnya.
Ia juga mewanti-wanti agar diagnosis "fatty liver ringan" tidak dianggap remeh. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memburuk menjadi sirosis hingga kanker hati. Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya peran pemerintah dan pihak terkait dalam menciptakan ekosistem hidup sehat yang mudah diakses masyarakat.
"Pencegahan fatty liver memerlukan kolaborasi semua pihak karena masyarakat akan sulit menerapkan gaya hidup sehat apabila makanan tinggi gula dan lemak lebih mudah diakses, lebih murah, dan lebih banyak dipromosikan dibandingkan pilihan yang sehat," pungkasnya.
Artikel Terkait
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri karena Sakit Bawaan Usai Jadi Tersangka
Israel Tegaskan Gencatan Senjata dengan Hizbullah Bergantung pada Kepatuhan Penuh terhadap Ketentuan
Polisi Amankan Dua Remaja Pembawa Tembakau Sintetis saat Patroli Dini Hari di Jakarta Barat
Empat Prajurit TNI Banding Atas Vonis Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS