Pedagang Nasi Kuning di Sampit Tertipu Beras Campur Pasir, Rugi Ratusan Ribu Rupiah

- Selasa, 09 Juni 2026 | 12:00 WIB
Pedagang Nasi Kuning di Sampit Tertipu Beras Campur Pasir, Rugi Ratusan Ribu Rupiah

Niat membeli beras murah untuk menekan biaya produksi usaha nasi kuning justru berakhir petaka. Jamilah (56), seorang pedagang nasi kuning di Gang Gudang Kuning, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, harus merelakan uangnya lenyap setelah tertipu oleh seorang pria tak dikenal. Bersama tetangganya, Jumah, ia menjadi korban modus penipuan beras campur pasir yang kian meresahkan.

Peristiwa itu bermula ketika seorang pria mendatangi keduanya menggunakan sepeda motor. Pelaku menawarkan beras dengan harga jauh di bawah harga pasaran yang kian meroket. Untuk meyakinkan calon korbannya, ia memperlihatkan contoh beras yang tampak bersih dan berkualitas baik. Tergiur oleh tawaran itu, Jamilah dan Jumah sepakat membeli total 30 kilogram beras. Pelaku kemudian meminjam karung dengan dalih akan mengambil beras sesuai jumlah pesanan.

Tak lama berselang, pelaku kembali sambil membawa karung yang diklaim sudah berisi beras. Setelah menerima pembayaran dari kedua korban, ia langsung menyerahkan karung tersebut dan segera meninggalkan lokasi. Kecurigaan baru muncul saat Jamilah membuka karung untuk menimbang dan membagi beras. Alih-alih menemukan beras utuh, ia mendapati isi karung hanya bagian atasnya saja yang berupa beras sekitar satu kilogram sementara sisanya adalah pasir putih.

“Jadi yang di atasnya itu beras sekitar satu kilogram, tapi yang di bawahnya pasir semua,” ujar Jamilah kepada wartawan, Selasa (9/6/2026).

Jamilah mengaku nekat membeli beras tersebut karena harganya jauh lebih murah ketimbang harga pasar yang terus mengalami kenaikan. Namun, niat menghemat biaya produksi itu justru berujung pada kerugian lebih dari Rp400.000. Kini, kedua korban hanya bisa berharap masyarakat lain lebih waspada terhadap penawaran barang murah dari orang yang tidak dikenal agar tidak mengalami nasib serupa.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar