Kekalahan di partai puncak Liga Champions 2025/26 tidak menggoyahkan soliditas skuad Arsenal. Gelandang Declan Rice menegaskan bahwa kebersamaan tim tetap utuh meskipun harus mengakui keunggulan Paris Saint-Germain (PSG) melalui adu penalti di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, Minggu (30/5) malam WIB.
Arsenal harus mengubur mimpi meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub setelah takluk 3-4 dalam babak tos-tosan. Pertandingan sebelumnya berakhir imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu, dengan gol Kai Havertz dibalas penalti Ousmane Dembele. Dua eksekutor Arsenal gagal menjalankan tugas, memastikan PSG keluar sebagai pemenang.
Rice mengakui kekalahan melalui adu penalti sangat menyakitkan. Namun, ia menilai hasil tersebut merupakan bagian dari sepak bola yang juga pernah dialami banyak tim besar dunia.
“Ini seperti lotere. Beberapa tim terbaik sepanjang sejarah juga pernah kalah lewat adu penalti di final, dan kali ini kami yang merasakannya,” ujar Rice seperti dikutip dari TNT Sport seusai pertandingan.
Di sisi lain, gelandang timnas Inggris itu menegaskan bahwa kekuatan utama Arsenal adalah solidaritas yang telah dibangun sepanjang musim. Menurutnya, seluruh pemain merasakan suka dan duka secara bersama-sama, termasuk saat menghadapi kekalahan di laga terbesar musim ini.
“Kami menang dan kalah bersama. Saya sangat bangga dengan para pemain ini,” kata Rice.
Pernyataan itu mencerminkan kuatnya kebersamaan dalam skuad Arsenal yang berhasil tampil konsisten di berbagai kompetisi. Rice juga mengajak seluruh tim untuk melihat pencapaian secara lebih luas. Meski gagal menjadi juara Eropa, ia menilai perjalanan tim di sepanjang musim ini tetap layak diapresiasi.
Terlebih, Arsenal telah mengakhiri penantian panjang menjuarai Liga Inggris pada pekan lalu. Prestasi tersebut terakhir kali mereka raih pada musim 2003/2004.
“Musim yang luar biasa! Saya sangat kecewa, tetapi saya juga mencoba melihat semuanya secara lebih utuh, mengingat dari mana kami memulai perjalanan ini pada Juli lalu dan di mana posisi kami sekarang. Kami akan bangkit,” ujar Rice.
Optimisme tersebut menjadi sinyal bahwa Arsenal siap bangkit dan kembali bersaing di level tertinggi musim depan. Rice juga memberikan dukungan penuh kepada Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes yang gagal mengeksekusi penalti. Menurutnya, kegagalan tersebut tidak mengurangi kontribusi besar kedua pemain selama musim berlangsung.
“Kami mencintai mereka dan kami selalu mendukung mereka. Hal seperti ini memang terjadi dalam sepak bola. Mereka bukan pemain pertama dan juga bukan yang terakhir yang gagal mengeksekusi penalti di final,” ujar Rice.
“Tanpa mereka berdua, kami juga tidak akan memenangkan Liga Inggris,” lanjutnya.
Dukungan dari Rice menunjukkan eratnya hubungan antarpemain Arsenal, yang tetap saling menguatkan meski baru saja mengalami kekecewaan besar. Kemenangan di Budapest membuat PSG semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa dengan koleksi dua trofi Liga Champions. Sementara itu, Arsenal harus kembali menunda ambisi meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub.
Meski demikian, keberhasilan menjuarai Liga Inggris dan mencapai final Liga Champions menjadi modal penting bagi The Gunners untuk menatap musim berikutnya dengan penuh optimisme.
Artikel Terkait
Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Tutup Usia di RSPAD
Wisata Alam Seulawah RG di Aceh Besar Diserbu Wisatawan saat Libur Iduladha, Villa Pink Love Jadi Primadona
Wakil MPR PAN Dukung RUU Satu Data Indonesia untuk Perbaiki Subsidi dan Bansos
Pengamat: Narasi ‘Kriminalisasi Kebijakan’ di Kasus Korupsi Chromebook Kemendikbudristek Terindikasi Terorkestrasi