Produksi minyak dan gas bumi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 1,03 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), lebih rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mencapai 1,04 juta BOEPD. Penurunan tipis ini terjadi di tengah tantangan struktural yang dihadapi industri hulu migas nasional, yakni penuaan sumur-sumur produksi yang telah melewati puncak produktivitasnya.
Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, mengungkapkan bahwa laju penurunan produksi alamiah, atau natural decline, menjadi persoalan utama yang harus diantisipasi secara serius. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Jakarta, Senin (25/5/2026), ia menjelaskan bahwa rata-rata natural decline untuk minyak mencapai 24 persen per tahun, sementara untuk gas sebesar 21 persen per tahun.
"Ini artinya apa, jika kita tidak melakukan apa-apa, istilahnya tidak ada effort untuk melakukan menahan decline, maka produksi kita secara natural setiap tahun untuk minyak akan turun 24 persen, sedangkan untuk gas akan turun sebesar 21 persen," ujarnya.
Lebih rinci, Awang memaparkan bahwa sepanjang 2025 produksi minyak PHE mencapai 556 ribu barel per hari (MBOPD), sedangkan produksi gas tercatat sebesar 2,75 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Tren produksi minyak perusahaan relatif stabil namun cenderung menurun dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, produksi minyak tercatat 566 MBOPD, lalu turun tipis menjadi 556 MBOPD pada 2024, dan bertahan di level yang sama pada 2025.
Sementara itu, produksi gas sempat mengalami peningkatan dari 2,76 MMSCFD pada 2023 menjadi 2,83 MMSCFD pada 2024, sebelum akhirnya sedikit menurun menjadi 2,75 MMSCFD pada 2025. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa upaya mempertahankan produksi gas masih menghadapi tekanan dari faktor alamiah yang sama.
Dalam konteks kontribusi terhadap produksi nasional, PHE menyumbang sekitar 65 persen produksi minyak domestik, setara dengan 396 MBOPD, serta 35 persen produksi gas nasional sebesar 1,8 miliar kaki kubik per hari (BCFD). Angka ini menegaskan posisi strategis PHE sebagai tulang punggung sektor hulu migas Indonesia.
Untuk menahan laju penurunan produksi, PHE menggencarkan kegiatan pengeboran sepanjang 2025. Perusahaan tercatat melakukan pengeboran pada 20 sumur eksplorasi, 887 sumur eksploitasi, serta 1.288 kegiatan work over dan lebih dari 37 ribu well intervention work services (WIWS). Kontribusi PHE dalam kegiatan hulu migas nasional mencapai 65 persen untuk eksplorasi, 90 persen untuk eksploitasi, dan lebih dari 90 persen untuk work over serta WIWS.
Di sisi lain, PHE juga terus memperluas portofolio wilayah kerja eksplorasi. Sepanjang periode 2022 hingga 2025, perusahaan memperoleh sembilan wilayah kerja eksplorasi baru. Pada tahun 2025 saja, terdapat tiga wilayah kerja baru yang berhasil didapatkan, yaitu Binaiya di Maluku, Lavender di Sulawesi Tenggara, dan Bobara di Papua. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional di tengah tantangan penuaan sumur yang terus berlangsung.
Artikel Terkait
Jaksa Agung Terima Penghargaan Istimewa, Burhanuddin: Ini Bukan untuk Saya Pribadi
Unjuk Rasa di Depan Lapas Narkotika Gowa Ricuh, Delapan Orang Diamankan Termasuk Dua Pengedar Positif Narkoba
BGN Wajibkan Setiap Dapur MBG Layani Minimal 300 Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita per 2 Juni 2026
Rusia Lancarkan Serangan Rudal Balistik Hipersonik ke Kyiv, Empat Warga Sipil Tewas