Indeks Literasi Nasional Masih Rendah, Wakil Ketua MPR Dorong Kolaborasi Perluas Akses Bahan Bacaan Berkualitas

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:35 WIB
Indeks Literasi Nasional Masih Rendah, Wakil Ketua MPR Dorong Kolaborasi Perluas Akses Bahan Bacaan Berkualitas

Pemerataan akses terhadap bahan bacaan berkualitas di seluruh pelosok desa dinilai menjadi salah satu kunci utama dalam mendorong peningkatan literasi nasional, dan hal ini membutuhkan keterlibatan aktif dari semua pemangku kepentingan. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menegaskan bahwa persoalan literasi di Indonesia tidak semata-mata disebabkan oleh rendahnya minat baca masyarakat. Lebih dari itu, masih terdapat masalah mendasar berupa terbatasnya ketersediaan dan sulitnya menjangkau bahan bacaan yang bermutu.

“Salah satu problem utama literasi di Indonesia bukan semata ketiadaan minat baca, juga masih rendahnya tingkat ketersediaan dan keterjangkauan akses terhadap bahan bacaan yang bermutu,” ujar Rerie dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Sementara itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI. Langkah ini ditempuh dalam rangka mengoptimalkan literasi digital di tanah air, terutama di tengah tingginya tingkat keterbacaan iPusnas, salah satu layanan unggulan Perpusnas. Meski demikian, layanan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya terkait aspek keamanan digital.

Menurut Rerie, kolaborasi multi-pihak untuk meningkatkan literasi nasional sudah mendesak untuk segera direalisasikan. Urgensi ini semakin terlihat dari data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dirilis Perpusnas pada Maret 2026. Skor nasional baru mencapai 40,6, sebuah angka yang masuk dalam kategori rendah dan dinilai mengkhawatirkan.

“Angka itu mengkhawatirkan, mengingat target untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 mengharuskan adanya peningkatan signifikan di semua unsur pengukuran, seperti sebaran layanan, koleksi, tenaga perpustakaan, dan keterlibatan masyarakat,” tegasnya.

Di sisi lain, data dari World Population Review bertajuk Average Books Read Per Year by Country 2025 menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca selama 129 jam per tahun. Capaian ini jauh tertinggal jika dibandingkan dengan India yang mencapai 352 jam dan Amerika Serikat yang mencatatkan 357 jam per tahun. Rerie menekankan bahwa bangsa dengan aspek literasi rendah akan tertatih-tatih dalam bersaing di kancah global.

Ironisnya, meskipun penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 77 hingga 80 persen, skor indeks literasi digital nasional pada 2025 masih stagnan di angka 44,53. Menurut anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini, kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi saja tidaklah cukup. Peningkatan kemampuan literasi digital harus berjalan beriringan agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara optimal.

Rerie menilai, program literasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pegiat literasi wajib diperkuat melalui aksi-aksi konkret di lapangan. “Saat ini, momentum untuk bergerak. Bangsa ini butuh generasi yang cerdas dan berkarakter, dan itu dimulai dari literasi. Tidak ada kata instan, yang ada adalah kolaborasi yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar