Demi bisa berbincang panjang lebar, Junaedi sengaja menjadwalkan wawancara selepas Zuhur, sekitar pukul 14.00 WIB. Alasannya sederhana: sejak dini hari hingga pagi, pria asal Pemalang, Jawa Tengah, itu harus berjualan tempe di pasar. Ia baru bisa meluangkan waktu setelah seluruh ritme dagang dan produksinya selesai.
Setiap hari, Junaedi berangkat menuju Pasar Cikema, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada pukul 00.00 WIB untuk menjajakan tempe hasil produksinya sendiri. Pukul 09.00 WIB, ia baru pulang ke rumah untuk beristirahat, lalu melanjutkan aktivitas produksi tempe pada siang harinya. Kesibukan itu terlihat jelas saat berkunjung ke rumahnya yang sekaligus menjadi tempat produksi di Citeureup, Kabupaten Bogor. Di sana, Junaedi tampak mengemas kedelai hasil peragian ke dalam plastik-plastik, sementara seorang pekerja merapikan tempe yang telah melalui tahap fermentasi.
“Kalau nggak dibantuin, entar kasihan yang kerja,” kata Junaedi saat ditemui di rumahnya.
Rutinitas itu telah dijalaninya sejak merantau ke Bogor sekitar 19 tahun lalu. Ia memilih usaha sebagai perajin tempe lantaran pernah bekerja bersama pamannya yang juga penjual tempe di kampung halaman. Di awal merintis, Junaedi hanya mampu memproduksi 10 hingga 15 kilogram tempe per hari. Namun, lambat laun usahanya berkembang. Kini, ia sudah mampu memproduksi satu kuintal tempe dalam sehari, atau sekitar tiga ton per bulan.
Proses itu dijalani Junaedi dengan tekun. Ia berusaha menjaga pelanggan tetap sekaligus mencari lapak strategis agar dagangannya terus laku. “Jadi harus namanya jualan itu di mana sih, menggaet pelanggan biar mau membeli dagangan, biar seneng. Ya untuk menjaga pelanggan biar ada kepuasan, jangan mengecewakanlah, ibaratnya,” ujar pria berusia 46 tahun itu.
Dalam perjalanan usahanya, Junaedi menyadari bahwa untuk meningkatkan pendapatan, ia harus menambah modal produksi. Ia pun akhirnya memanfaatkan pinjaman dari program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Junaedi mengaku telah tiga kali meminjam uang dari bank tersebut. Dua pinjaman sebelumnya telah lunas dibayar, masing-masing senilai Rp80 juta dan Rp150 juta. Sementara itu, pinjaman terakhir melalui KUR BRI baru berjalan beberapa bulan dengan nilai Rp100 juta dan tenor tiga tahun.
Dampak pinjaman itu terasa besar bagi usaha dan kehidupan keluarganya. Modal dari BRI membuat usaha tempenya berkembang pesat. Pinjaman pertama senilai Rp80 juta digunakan untuk tambahan modal usaha, sebagian lainnya untuk membeli tanah di Citeureup seluas 150 meter persegi. Junaedi menyadari, selama masih mengontrak di tempat lain, produksi tempenya tidak bisa berjalan maksimal. Karena itu, ia mulai memikirkan untuk pindah ke tempat yang lebih sesuai.
“Artinya, waktu pas saya lagi ngontrak kan saya harus ngeluarin duit tiap bulan Rp1 juta. Nah, giliran ada BRI minjamin saya, ya punya tempat sendiri, usaha semakin bertambah, ada modal, kan enak,” ujar Junaedi.
Setelah itu, ia kembali mengajukan pinjaman sebesar Rp150 juta. Uang ini digunakan untuk pembangunan rumah dan peningkatan produksi tempe. Sejak saat itu, usaha tempenya meningkat pesat, bahkan produksi sempat menyentuh dua kuintal per hari. “Alhamdulillah dari BRI semua. Dari pembelian tanah itu BRI semua,” katanya.
Saat ini, pendapatan kotor usaha tempe Junaedi bisa mencapai sekitar Rp15 juta per bulan. Penghasilan itu digunakan untuk kebutuhan keluarga sekaligus diputar kembali sebagai modal usaha. Selain itu, keuntungan juga digunakan untuk membayar gaji pegawai. Saat ini, Junaedi mempekerjakan satu orang pegawai yang masih memiliki hubungan saudara dengannya.
Saat berkunjung ke rumahnya, dua orang tukang tampak memperbaiki bagian depan rumah Junaedi. Renovasi dilakukan agar tempat produksinya lebih layak setelah sempat mendapat kunjungan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk rencana kerja sama program Makan Bergizi Gratis (MBG). Junaedi bersyukur pinjaman KUR BRI bermanfaat bagi pengembangan usahanya hingga mampu memiliki rumah sekaligus tempat produksi tempe sendiri. Ia berharap usahanya ke depan bisa terus berkembang. “Ya, mudah-mudahan adanya bantuan KUR, ya kan namanya kita orang usaha kadang kan membutuhkan modal, ya bersyukur bener sih,” ujarnya.
Cerita mengenai dampak program KUR BRI terhadap peningkatan ekonomi warga juga dikonfirmasi oleh Mantri BRI Unit Citeureup, Yoserio Saragih. Ia mengaku melihat langsung manfaat program tersebut terhadap perkembangan usaha Junaedi sebagai perajin tempe di Blok Tempe, wilayah binaannya. “Jadi benar-benar saya sendiri melihat bahwa sangat-sangat bermanfaat karena mereka juga mengelolanya bukan untuk hal-hal yang aneh-aneh, nggak. Fokus ke usaha mereka ataupun ke aset,” kata Yose.
Menurut Yose, pembayaran angsuran dari para pelaku usaha di kawasan tersebut pun relatif lancar. Bahkan, kantor pusat BRI sempat memberikan reward bagi warga di Blok Tempe. “Reward dalam bentuk kalau dari kantor pusat ke kita dalam bentuk dana. Nah, kita juga menyerahkan untuk misalkan kayak hadiahnya kita tambah-tambahin, panjat pinang, gitu-gitu,” kata Yose.
Yose menjelaskan, proses pencairan KUR BRI relatif cepat dengan tetap memperhatikan prosedur yang tepat. Apalagi, kata Yose, Junaedi dan para pelaku usaha di Blok Tempe menggunakan dana pinjaman itu secara produktif. “Rata-rata memang mereka di sana tuh warganya nggak aneh-aneh, nggak ada yang main pinjol dan segala macam. Jadi memang warganya pedagang semua, orang-orang benar, jadi semua proses kita cepat seperti itu,” tutur dia.
Artikel Terkait
Perjalanan Kereta di Stasiun Pasar Senen Kembali Normal Usai Evakuasi Lokomotif Anjlok
Iran Tegaskan Tak Cari Konsesi dari AS, Hanya Tuntut Pencabutan Sanksi
Libur Panjang Idul Adha, Waisak, dan Hari Lahir Pancasila: KCIC Tambah Jadwal Whoosh untuk Antisipasi Lonjakan Penumpang
Peserta Rekrutmen Mitra Statistik BPS 2026 Wajib Unggah Pakta Integritas Sebelum Pengumuman Akhir