Honda Catat Kerugian Pertama dalam Sejarah Akibat Penundaan Produksi EV di AS

- Jumat, 15 Mei 2026 | 13:30 WIB
Honda Catat Kerugian Pertama dalam Sejarah Akibat Penundaan Produksi EV di AS

Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya sejak tercatat di Bursa Efek Tokyo pada 1957, raksasa otomotif Jepang, Honda, mencatatkan kerugian tahunan. Dalam pengumuman yang disampaikan di Tokyo, Kamis (14/5/2026), perusahaan membukukan kerugian sebesar 414,3 miliar yen atau setara dengan sekitar 2,7 miliar dolar AS untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret lalu.

Kerugian besar ini terutama dipicu oleh tertundanya rencana produksi kendaraan listrik untuk pasar Amerika Serikat. Pada Maret lalu, Honda membatalkan peluncuran dan pengembangan sejumlah model kendaraan listrik (EV) di AS, termasuk tiga model yang direncanakan diproduksi di sana, yakni Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX.

Keputusan tersebut tidak lepas dari perubahan kebijakan pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. Penerapan tarif impor dan penghapusan insentif pajak bagi pembeli kendaraan listrik menjadi faktor utama yang memengaruhi penundaan proyek-proyek EV Honda. Pemerintahan Trump juga mengurangi program insentif untuk kendaraan listrik dan menahan dana bagi negara bagian yang ingin menambah stasiun pengisian daya, meskipun harga bensin di AS melonjak akibat perang di Iran. Trump sebelumnya juga memblokir mandat kendaraan listrik yang ketat di California. Tarif impor untuk mobil dan suku cadang, meskipun telah diturunkan menjadi 15 persen dari semula 25 persen, tetap berdampak pada profitabilitas Honda.

Akibat perubahan peraturan dan faktor lainnya, permintaan terhadap kendaraan listrik menurun secara signifikan. Sejumlah analis menilai Honda Motor Co mungkin terlalu ambisius dan terlalu cepat dalam melangkah, sementara banyak pasar, terutama segmen EV, belum sepenuhnya siap. Perusahaan pun terpaksa menghentikan banyak rencana peluncuran model kendaraan listrik, termasuk yang tengah dikembangkan dalam usaha patungan dengan Sony Corp.

Menanggapi situasi ini, CEO Honda Toshihiro Mibe menyatakan bahwa perusahaan saat ini tengah memetakan strategi pertumbuhan baru yang mencakup upaya berkelanjutan untuk mencapai netralitas karbon. Namun, Mibe mengakui bahwa pengembangan model hibrida dan kendaraan bermesin bensin konvensional tetap diperlukan, tidak hanya kendaraan listrik.

“Kami akan melanjutkan penelitian dan pengembangan kami untuk terus mengembangkan teknologi masa depan, termasuk baterai kendaraan listrik,” kata Mibe.

Di tengah kinerja sektor mobil yang kurang menggembirakan, laba bersih Honda tetap terjaga berkat bisnis sepeda motornya yang sehat dan tumbuh positif. Sektor ini membantu penjualan keseluruhan produk Honda pada tahun fiskal ini naik 0,5 persen menjadi 21,8 triliun yen, atau sekitar 138 miliar dolar AS. Honda, yang dikenal dengan produksi mobil ikonik seperti sedan Accord dan sepeda motor Super Cub, menjual 3,4 juta mobil di seluruh dunia pada tahun ini, turun dari 3,7 juta unit pada tahun fiskal sebelumnya. Sementara itu, penjualan sepeda motor justru meningkat menjadi 22,1 juta unit secara global, naik dari 20 juta unit pada tahun lalu, dengan dominasi di sejumlah pasar, termasuk India.

Tantangan serupa tidak hanya dialami Honda. Produsen otomotif Jepang lainnya juga tertekan oleh tarif AS, perang di Timur Tengah yang berkepanjangan, dan persaingan ketat dari perusahaan otomotif China. Toyota, misalnya, pekan lalu memperkirakan penurunan laba bersih sebesar 22 persen pada tahun fiskal ini. Sementara itu, Nissan yang dalam beberapa waktu terakhir telah menutup sejumlah pabrik dan memangkas ribuan pekerja, masih terpukul oleh tarif AS, inflasi, dan persaingan yang semakin ketat. Nissan Motor Corp melaporkan kerugian sebesar 533 miliar yen, atau sekitar 3,4 miliar dolar AS, pada tahun fiskal ini. Meskipun kerugian tersebut lebih kecil dibandingkan tahun fiskal sebelumnya yang mencapai 670,9 miliar yen, penjualan tahunan Nissan turun 5 persen menjadi 12 triliun yen, sekitar 76 miliar dolar AS.

CEO Nissan Ivan Espinosa mengatakan bahwa perusahaannya telah membuat kemajuan yang stabil dan melihat “tanda-tanda yang positif” dari rencana pemulihan.

“Kami telah melampaui pemulihan dan memasuki fase pertumbuhan. Kami akan membangun momentum ini melalui manajemen biaya yang disiplin dan eksekusi produk yang lebih cepat, mendorong penjualan dan profitabilitas,” ujar Espinosa. Nissan, yang dikenal dengan produk seperti sedan Altima, SUV Pathfinder, kendaraan listrik Leaf, dan model mewah Infiniti, telah menjual 3,15 juta kendaraan secara global selama tahun fiskal ini.

Menanggapi kerugian yang dialami Honda dan Nissan, analis Bloomberg Intelligence Tatsuo Yoshida menilai terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Menurut Yoshida, kelemahan utama Nissan terletak pada kekuatan produk dan merek yang lemah serta pemulihan yang tidak dapat diprediksi. Sementara itu, kerugian Honda dinilai sebagai kerugian besar satu waktu akibat perubahan strategi.

“Produk kendaraan ICE (mesin pembakaran internal) dan HEV (kendaraan listrik hibrida) Honda masih kuat, dan kekuatan mereknya tinggi. Profitabilitas di bidang sepeda motor dan keuangan juga bagus,” kata Yoshida.

Sebelumnya, sempat muncul rencana untuk menggabungkan beberapa operasi Nissan dengan Honda Motor Co, namun pembicaraan tersebut gagal. Meskipun merger dinilai tidak mungkin terjadi, peluang kemitraan dan kerja sama terbatas tampaknya lebih realistis. Produsen mobil Jepang kini tengah berjuang dan bersaing ketat dengan pemain baru, yakni produsen mobil China yang mulai mendominasi pasar Asia.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar