Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meninggalkan Beijing pada Jumat (15/5/2026) sore waktu setempat, menandai berakhirnya kunjungan kenegaraan yang telah dinantikan selama hampir satu dekade. Kepergiannya mengakhiri rangkaian pertemuan diplomatik yang berlangsung sejak Rabu lalu, menjadikannya lawatan pertama presiden AS ke China sejak tahun 2017.
Sebelum bertolak, Trump menggelar pertemuan tertutup dengan pemimpin China, Xi Jinping. Dalam momen perpisahan tersebut, Trump menyampaikan keinginannya untuk terus menjaga jalur komunikasi dengan Xi. Ia pun kembali melontarkan undangan agar Xi mengunjungi Amerika Serikat, dengan rencana untuk menjamu pemimpin China tersebut di Washington DC pada akhir tahun ini.
Kedua pemimpin membahas sejumlah isu strategis selama kunjungan tiga hari itu, mulai dari ketegangan di kawasan Taiwan hingga situasi Iran. Namun, agenda bilateral tidak hanya berputar pada politik. Sejumlah kesepakatan bisnis juga dihasilkan, termasuk rencana pembelian 200 unit pesawat Boeing oleh China, sebuah langkah yang menandai pelonggaran ketegangan dagang antara dua negara adidaya tersebut.
Sementara itu, Trump tidak datang sendirian. Ia membawa serta belasan CEO perusahaan-perusahaan raksasa AS, termasuk bos Nvidia, Jensen Huang, dan orang terkaya di dunia, Elon Musk. Kehadiran para pemimpin industri ini menunjukkan bahwa kunjungan tersebut tidak semata-mata bersifat diplomatik, tetapi juga sarat dengan misi ekonomi dan investasi lintas sektor.
Artikel Terkait
Persik Kediri Siap Tampil Full Team Hadapi Persija demi Target Tiga Poin
Mobil Valtteri Bottas Dicuri saat F1 Miami, FBI Turun Tangan karena Akses VIP Tertinggal
Gempa Magnitudo 6,3 Guncang Jepang Utara, Tak Picu Tsunami atau Kerusakan Signifikan
Polisi Duga Kebocoran Tangki Truk Jadi Pemicu Kebakaran Bus ALS di Musi Rawas Utara