UMY Tawarkan Kerja Sama Akademik dengan Institut Kepausan Vatikan untuk Perkaya Studi Islam di Asia

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 18:00 WIB
UMY Tawarkan Kerja Sama Akademik dengan Institut Kepausan Vatikan untuk Perkaya Studi Islam di Asia

Pengenalan Islam di kawasan Asia, khususnya dari Indonesia, dinilai akan memperkaya wawasan studi keislaman di Institut Kepausan untuk Studi Bahasa Arab dan Islamologi (PISAI) di Vatikan. Hal ini disampaikan oleh President PISAI, Don Wasim Salman, dalam pertemuan dengan delegasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dipimpin Rektor Achmad Nurmandi pada 6 Mei 2026.

PISAI merupakan lembaga pendidikan tinggi gerejawi yang didirikan oleh Serikat Misionaris Afrika pada 1926 di Tunisia. Institut ini mendapat mandat dari Takhta Suci Vatikan untuk memberikan gelar akademik. Tujuan pendiriannya adalah mempromosikan budaya dialog, saling pengertian, dan kerja sama antara umat Kristen dan Muslim melalui penelitian ilmiah, publikasi, kegiatan akademik, serta pengajaran.

Selama ini, Don Wasim mengakui bahwa pengajaran Islam di PISAI lebih banyak berfokus pada Islam di Timur Tengah. Hal itu terjadi karena studi yang ditawarkan tidak hanya mencakup ajaran ilmu Islam, tetapi juga budaya di kawasan negara-negara Arab. “PISAI memiliki keterbatasan tenaga pengajar lokal untuk Studi Islam dan membutuhkan pakar eksternal dari kawasan lain, termasuk Indonesia,” ungkapnya dalam siaran pers KBRI Vatikan.

Keterbatasan tersebut justru dilihat sebagai peluang oleh KBRI untuk Takhta Suci. Indonesia dinilai dapat berperan membagikan pengetahuan tentang perkembangan ilmu Islam di Nusantara. “Kami mengharapkan melalui pertemuan ini dapat menghasilkan sesuatu yang sifatnya konkret dan bermanfaat bagi Indonesia dan Vatikan, khususnya di antara kedua institusi pendidikan UMY dan PISAI,” ucap Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, yang turut mendampingi tim UMY.

Rektor UMY, Achmad Nurmandi, menilai kerja sama dengan PISAI akan membawa manfaat bagi Muhammadiyah. Pihaknya menawarkan pelaksanaan penelitian tentang Muhammadiyah dari perspektif Eropa. Selain itu, UMY juga mengusulkan pengiriman dosen tamu untuk memperkenalkan Islam di Asia, khususnya Indonesia, guna memperkaya pengetahuan PISAI. “Kita juga dapat mengatur pertukaran atau kunjungan mahasiswa jangka pendek ke Universitas Muhammadiyah baik di Jakarta maupun di Yogyakarta,” ungkap Achmad.

Tawaran kerja sama itu mendapat respons positif dari Don Wasim. Diskusi lebih lanjut akan dilakukan untuk membahas detail pelaksanaannya. “Saat ini, selain Misionaris Afrika, staf pengajar PISAI termasuk di dalamnya para rohaniwan dari berbagai tempat, imam diosesan, dan umat awam. Kerja sama yang ditawarkan oleh UMY pasti akan membawa warna baru di PISAI,” tambahnya.

President PISAI, Rev. Don Wasim Salman, merupakan warga negara Suriah-Italia yang lahir di Damaskus pada 3 Agustus 1976. Ia meraih gelar Doktor Teologi dari Universitas Gregorian pada 2009 dan Doktor Filsafat Arab dari Universitas Tor Vergata pada 2016. Selain memimpin PISAI, ia juga mengajar teologi Katolik di Italia.

Pertemuan antara UMY dan PISAI merupakan bagian dari rangkaian kunjungan tim UMY ke Vatikan dan Roma yang bekerja sama dengan KBRI untuk Takhta Suci. Tim UMY dipimpin Rektor Achmad Nurmandi, didampingi Wakil Rektor Zuly Qodir, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Bachtiar Dwi Kurniawan, serta Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Velandani Prakoso. Dari KBRI Takhta Suci, hadir Duta Besar Michael Trias Kuncahyono, didampingi Pelaksana Fungsi Politik dan Sosial Budaya Haryadi Satya, serta Romo Albertus Gatot Hendrarso, Pr., seorang pastur WNI yang tengah menempuh pendidikan S2 Studi Islam di PISAI.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar