Wabah Menari 1518 di Strasbourg: Ratusan Orang Menari Tanpa Henti hingga Tewas karena Kelelahan

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 19:10 WIB
Wabah Menari 1518 di Strasbourg: Ratusan Orang Menari Tanpa Henti hingga Tewas karena Kelelahan

Pada abad ke-16, Prancis pernah dilanda sebuah fenomena aneh yang bukan disebabkan oleh kolera maupun wabah pes, melainkan oleh wabah menari yang berujung pada kematian. Peristiwa ini tercatat dalam Ensiklopedia Britannica sebagai salah satu misteri medis paling ganjil dalam sejarah Eropa.

Wabah tersebut menyerang kota Strasbourg yang saat itu merupakan kota bebas di dalam Kekaisaran Romawi Suci, kini wilayah Prancis pada tahun 1518. Sekelompok warga tiba-tiba menari tanpa kendali dan berlangsung selama berhari-hari tanpa henti.

Pada Juli 1518, seorang wanita yang dikenal dengan panggilan Nyonya Frau melangkah keluar rumah dan mulai menari di jalan. Ia tampak tidak mampu menghentikan gerakannya meskipun tubuhnya sudah kelelahan. Tarian itu terus berlanjut hingga ia pingsan karena kehabisan tenaga.

Setelah beristirahat sejenak, wanita itu kembali melanjutkan aktivitas menarinya. Ia terus bergerak selama berhari-hari, dan dalam waktu seminggu, lebih dari 30 orang lainnya ikut terserang gejala serupa. Mereka semua menari tanpa henti hingga mengalami kelelahan parah dan cedera fisik.

Pihak berwenang kota mulai khawatir ketika jumlah penari terus bertambah. Para pemimpin sipil dan agama sempat berteori bahwa solusi terbaik adalah membiarkan mereka terus menari hingga benar-benar kelelahan. Berdasarkan asumsi itu, pemerintah setempat kemudian menyediakan balai-balai perkumpulan bagi para penari, mendatangkan musisi untuk mengiringi tarian, serta meminta penari profesional membantu mereka yang terjangkit agar tetap bergerak.

Namun, kebijakan tersebut justru memperburuk penyebaran wabah. Alih-alih mereda, jumlah korban terus meningkat hingga mencapai sekitar 400 orang yang mengalami kecanduan menari. Sebagian dari mereka akhirnya meninggal dunia akibat kelelahan ekstrem. Wabah menari ini baru mulai mereda pada awal September 1518, setelah berlangsung selama lebih dari dua bulan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar