Bank Sampah di Kota Bambu Utara Buktikan Sampah Bisa Jadi Sumber Ekonomi Warga

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:15 WIB
Bank Sampah di Kota Bambu Utara Buktikan Sampah Bisa Jadi Sumber Ekonomi Warga

Di tengah ancaman kelebihan muatan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, warga Kelurahan Kota Bambu Utara (KBU), Palmerah, Jakarta Barat, menemukan celah ekonomi yang selama ini terabaikan. Kehadiran bank sampah di wilayah itu tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah, tetapi juga membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Saifuddin, petugas Kelurahan Kota Bambu Utara, mengungkapkan bahwa jumlah nasabah bank sampah terus menunjukkan peningkatan. “Tapi sekarang nasabahnya jadi tambah meningkat,” jelasnya kepada awak media, Sabtu, 9 Mei 2026.

Program bank sampah di kelurahan tersebut sejatinya sudah dirintis sejak 2018. Awalnya merupakan inisiatif dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), namun kini program itu meluas dan partisipasi warga semakin signifikan. Setiap rumah tangga diajak memilah sampah sebelum disetorkan.

“Biasanya pemilahannya mulai dari sampah organik, terus ada kertas-kertas yang nggak kepakai, terus dus-dus, dan sampah residu juga,” kata Saifuddin menjelaskan jenis sampah yang dipisahkan oleh warga.

Proses pengumpulan dilakukan secara terjadwal. Petugas kebersihan akan mengangkut sampah yang sudah dipilah setiap dua hari sekali. Sistem antar jemput ini memudahkan warga yang tidak sempat datang langsung ke lokasi bank sampah. “Kita antar jemput. Kalau pembayaran kita antar,” ujar Saifuddin.

Melalui sistem yang terintegrasi dengan DLH, aktivitas memilah sampah kini tidak lagi sekadar kewajiban menjaga kebersihan lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ini telah menjadi sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat. Petugas bank sampah tidak hanya mengangkut sampah, tetapi juga mengantarkan pembayaran tabungan warga ke rumah masing-masing.

Vita, ketua bank sampah RW II Kelurahan Kota Bambu Utara, menuturkan bahwa kesadaran warga meningkat drastis setelah mereka menyadari nilai ekonomi dari sampah. “Warga rajin untuk milah sampah setelah maaf ya, setelah tahu oh nilainya lumayan ya,” katanya, Sabtu, 9 Mei 2026.

Menurut Vita, perubahan pola pikir inilah yang mendorong warga semakin giat menyetor sampah. Data tonase sampah pun menjadi bukti nyata. Saifuddin menambahkan, “Tonase paling banyak sini ya (Kota Bambu Utara), Palmerah, bahkan se Jakarta Barat.”

Meskipun tantangan dalam mengubah kebiasaan masih ada, respons positif dari masyarakat mulai terlihat. Kelurahan Kota Bambu Utara tercatat sebagai salah satu wilayah dengan tonase sampah tertinggi di Jakarta Barat berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup. Inisiatif ini membuktikan bahwa ancaman lingkungan dapat disulap menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar