Backlog Perumahan Jateng Tersisa 1,05 Juta Unit usai 281.312 Rumah Dibangun Hingga Awal 2026

- Rabu, 06 Mei 2026 | 17:10 WIB
Backlog Perumahan Jateng Tersisa 1,05 Juta Unit usai 281.312 Rumah Dibangun Hingga Awal 2026

Realisasi pembangunan rumah di Jawa Tengah mencapai 281.312 unit hingga triwulan pertama 2026, menandai langkah signifikan dalam menekan angka kekurangan hunian atau backlog perumahan di provinsi tersebut. Capaian itu merupakan akumulasi dari pembangunan sebanyak 274.514 unit sepanjang 2025 yang bersumber dari berbagai skema pendanaan, ditambah 6.798 unit pada tiga bulan pertama tahun ini. Anggaran yang digunakan berasal dari APBN, APBD Provinsi Jawa Tengah, APBD kabupaten/kota, dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Baznas, serta sumber lainnya.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menyatakan bahwa pencapaian tersebut menjadi bagian krusial dalam upaya mengurangi backlog perumahan. Pada akhir 2025, angka backlog tercatat sekitar 1,33 juta unit. Berkat kerja sama berbagai pihak, sepanjang tahun lalu berhasil ditekan sekitar 274 ribu unit sehingga pada awal 2026 angkanya turun menjadi sekitar 1,05 juta unit.

“Pada akhir 2025, backlog perumahan tercatat sekitar 1,33 juta unit. Berkat upaya kolaboratif, sepanjang 2025 berhasil ditekan sekitar 274 ribu unit, sehingga awal 2026 turun menjadi sekitar 1,05 juta unit,” kata Boedyo dalam keterangan tertulis, Rabu (6/5/2026).

Pemerintah menargetkan penuntasan backlog dalam empat tahun ke depan melalui sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, serta dukungan pemangku kepentingan seperti CSR, Baznas, pelaku usaha, dan masyarakat. Penanganan backlog mencakup dua aspek, yakni kepemilikan rumah bagi masyarakat yang belum memiliki hunian serta peningkatan kelayakan rumah melalui perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

“Program ini tidak hanya membangun rumah baru, tetapi juga memperbaiki rumah yang tidak layak agar memenuhi standar hunian yang aman dan sehat,” jelas Boedyo.

Penentuan penerima bantuan dilakukan berdasarkan data terpadu seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), yang kemudian diverifikasi melalui pengecekan lapangan, termasuk status lahan dan kondisi fisik bangunan. Program ini juga menjadi bagian dari dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap target nasional pembangunan tiga juta rumah.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa program RTLH merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah untuk memastikan masyarakat hidup di hunian yang layak, aman, dan sehat. Menurutnya, penyediaan rumah bagi warga miskin bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya menghadirkan keadilan sosial.

“Kami akan terus memperkuat kolaborasi agar semakin banyak warga terbantu dan backlog perumahan di Jawa Tengah bisa ditekan secara bertahap,” ungkapnya.

“Kami ingin setiap keluarga di Jawa Tengah memiliki tempat tinggal yang layak sebagai fondasi untuk hidup lebih sejahtera dan produktif,” kata Ahmad Luthfi.

Manfaat program ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Subali, warga Desa Sirnoboyo, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, kini dapat menempati rumah layak setelah sebelumnya tinggal menumpang. Sebagai penjual bakso bakar keliling, penghasilannya tidak menentu. Namun kini, bersama istri dan anaknya, ia bisa menikmati hunian yang lebih nyaman.

“Saya senang sekali dapat bantuan rumah. Dulu tidak pernah kepikiran bisa punya rumah sendiri,” ujarnya.

“Sekarang lebih nyaman punya rumah sendiri. Anak juga lebih semangat belajar,” katanya.

Sumar, warga desa yang sama, juga merasakan manfaat program renovasi RTLH. Rumahnya yang sebelumnya berdinding kayu kini telah diperbaiki menjadi tembok bata berlapis semen. Sebagai petani sekaligus pekerja serabutan, Sumar mengaku kesulitan memperbaiki rumah karena keterbatasan ekonomi. Penghasilannya yang tidak menentu membuat rencana renovasi kerap tertunda.

“Senang sekali mendapat bantuan RTLH. Saya merasa pemerintah benar-benar memperhatikan warganya,” ujarnya.

“Kadang buruh tani, kadang ikut tukang batu. Ingin memperbaiki rumah tapi belum punya biaya. Alhamdulillah sekarang bisa direnovasi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa bantuan tersebut membuatnya lebih tenang dan termotivasi dalam bekerja. Kini, bersama istrinya, Sumar dapat menempati rumah yang lebih layak dan kokoh.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar