Kesaksian Penumpang Selamat: Kecelakaan Maut di Bekasi Timur, Alarm Tak Berbunyi, Andalkan Teriakan ‘Woi Keluar’

- Kamis, 30 April 2026 | 12:50 WIB
Kesaksian Penumpang Selamat: Kecelakaan Maut di Bekasi Timur, Alarm Tak Berbunyi, Andalkan Teriakan ‘Woi Keluar’

Rara Dania masih ingat betul momen itu. Gelap. Bunyi ledakan lampu. Dan tubuhnya yang tiba-tiba terhantam keras. Perempuan ini selamat dari kecelakaan kereta di Bekasi Timur, tapi bayangan kejadian itu masih melekat di kepalanya.

Dia bilang, sampai sekarang masih nggak percaya. KRL yang ditumpanginya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek dari arah Jakarta. Badannya ikut tergeret, pipinya lecet. Semua terjadi begitu cepat.

"Masih nggak nyangka gua ada di dalem KRL yang kecelakaan," katanya dalam utasan di media sosial.

"Mau nangis tapi takut chaos. Tu KRL bener-bener ditabrak kenceng banget. Gua nggak tahu gua di gerbong berapa. Tiba-tiba gua jatoh ke kiri, kegeret ampe pipi gua beset. Tiga jari gua kebanting aspal. KRL sampai badan gua sendiri nggak bisa nahan dan ikut kegeret. HP gua kelempar, untungnya gua bisa ambil tu HP karena layarnya tiba-tiba nyala. Gua cuma inget sebelum kebanting ada mas-mas teriak 'Woi keluar'. Semua orang belum sadar sampai bunyi ledakan lampu dan gelap."

Di dalam gerbong, Rara terbaring di lantai. Gelap gulita. Tapi anehnya, dia bersyukur. Meski tergeletak, nggak ada satu pun orang yang menginjaknya. Dia coba bangun, susah banget rasanya. Yang ada di kepalanya cuma satu: kereta ini bakal tergerek sampai mana?

Pintu KRL sempat tertutup rapat. HP-nya terpental. Panik? Jelas. Tapi begitu pintu akhirnya terbuka, dia lihat asap sudah mulai mengepul. Tanpa pikir panjang, dia keluar. Sepatu? Hilang. Nggak sempat dicari.

"Mukjizat! Pintu gerbong gua pas depan tangga. Gua lari ke tangga. Gua liat ada asap atau debu udah lekat banget sampai bikin nafas sesak. Gua lari tap (kartu) terus gua duduk di tukang jualan persis di tangga. Ibu-ibu baik banget langsung ngasih gua air. Pas gua duduk, gua liat dari jauh orang-orang udah pada luka-luka hebat," ujarnya.

Awalnya, Rara nggak sadar kalau ini kecelakaan besar. Dia cuma merasa keretanya seperti didorong sesuatu. Ada yang berteriak. Tapi nggak ada alarm, nggak ada peringatan. Baru setelah dia duduk di tangga, dia lihat ambulance, pemadam, mobil polisi semua rame banget. Baru dia sadar.

"Gua bener-bener di kasih tahu sama mas-mas yang bilang 'Woi keluar' sama ledakan lampu," imbuhnya.

Nah, soal kronologinya, begini ceritanya. Senin malam, 27 April, taksi Green SM tiba-tiba berhenti di tengah rel dekat Stasiun Bekasi Timur. Nggak lama, KRL dari Cikarang menuju Jakarta menabrak taksi itu. KRL pun berhenti di tengah rel. Warga berdatangan, bantu evakuasi.

Tapi di sisi lain, ada KRL jurusan Cikarang yang harus menunggu lebih lama di stasiun karena insiden tadi. Nah, KRL yang lagi nunggu inilah yang kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek dari arah Jakarta. Tragis.

Menurut KAI, awalnya ada 15 orang meninggal. Tapi kemudian jumlahnya bertambah jadi 16 orang. Sampai sekarang, masih jadi perbincangan hangat. Banyak yang menyoroti soal sistem peringatan di dalam KRL. Rara sendiri berharap, ke depannya ada alarm yang bisa kasih tahu penumpang kalau terjadi sesuatu. Biar nggak cuma mengandalkan teriakan "Woi keluar" dari penumpang lain.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar