Proposal Baru Iran untuk Selat Hormuz Ditolak Keras AS, Perundingan Damai Kian Buntu

- Rabu, 29 April 2026 | 06:20 WIB
Proposal Baru Iran untuk Selat Hormuz Ditolak Keras AS, Perundingan Damai Kian Buntu

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih mentok. Belum ada titik temu. Dan yang bikin tambah runyam, proposal anyar dari Teheran soal Selat Hormuz ternyata bikin Presiden Donald Trump geregetan.

Menurut laporan yang beredar, Trump sudah mendapat pengarahan soal proposal baru Iran itu dalam rapat di Situation Room Gedung Putih, Senin (27/4) lalu. Isinya? Iran mau membuka kembali Selat Hormuz tapi dengan syarat. Syaratnya: AS harus mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka.

Nah, yang menarik atau mungkin bikin pusing adalah proposal ini sama sekali tidak menyinggung program nuklir Teheran. Beberapa pejabat dari kedua pihak mengonfirmasi hal itu. Jadi ya, fokusnya cuma soal Selat Hormuz dan blokade. Urusan nuklir? Nihil.

Lalu apa sebenarnya yang bikin Trump tidak suka? Sulit ditebak secara persis. Tapi yang jelas, sejak lama dia ngotot pada dua tuntutan utama soal nuklir Iran. Dan proposal baru ini, ya, tidak menyentuh sama sekali tuntutan itu.

Seorang pejabat AS yang minta namanya tidak disebut bilang, kalau sampai AS menerima proposal macam itu, artinya mereka secara terang-terangan mengakui kekalahan Trump. Kasar memang, tapi begitulah kira-kira intinya.

Jurubicara Gedung Putih, Olivia Wales, juga angkat bicara. Katanya,

"Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui pers. Kami sudah menjelaskan batasan-batasan kami dengan jelas. Presiden hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika dan dunia."

Pernyataan itu disampaikan ke NYT. Tegas, tanpa kompromi.

Proposal anyar Iran ini pertama kali diungkap oleh media AS, Axios, pada Minggu (26/4) waktu setempat. Menariknya, pemberitaan itu muncul tak lama setelah mereka melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sudah menyerahkan proposal tersebut kepada mediator Pakistan.

Menurut Axios, isinya kurang lebih begini: Iran mengusulkan perpanjangan gencatan senjata entah untuk jangka waktu lama atau malah dibuat permanen. Sementara itu, perundingan soal nuklir baru akan dimulai kalau Selat Hormuz sudah dibuka lagi dan blokade laut AS sudah dicabut.

Di sisi lain, AS punya sikap yang sudah jelas sejak awal. Mereka ngotot Iran harus menangguhkan pengayaan uranium setidaknya selama sepuluh tahun. Belum lagi soal pemindahan pasokan uranium yang sudah diperkaya dari dalam negeri Iran. Tuntutan-tuntutan ini, sampai sekarang, belum secara resmi diterima oleh Teheran.

Jadi ya, situasinya masih cair. Atau lebih tepatnya, masih beku.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar