Tokyo: Di tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi, Toyota punya proyek yang agak nyeleneh. Namanya Woven City. Bukan kota biasa, ini semacam laboratorium raksasa buat nguji coba masa depan mobilitas. Semua serba AI dari kendaraan otonom sampai infrastruktur jalan.
Konsepnya sederhana: manusia, teknologi, dan infrastruktur disatukan dalam satu ekosistem. Tujuannya? Menciptakan apa yang mereka sebut safe mobility society. Sebuah masyarakat di mana mobilitas benar-benar aman dan terintegrasi.
Menurut Takuya Yokohama, President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), tempat ini bukan cuma buat riset. Lebih dari itu, Woven City dirancang sebagai rumah kolaborasi. Peneliti dan warga biasa bisa hidup bareng, saling ngasih masukan.
"Toyota Woven City berfungsi sebagai rumah bagi penduduk dan peneliti kelas dunia yang diberi kesempatan mengembangkan berbagai teknologi mobilitas masa depan seperti mobil otonom, personal mobility, hingga infrastruktur lalu lintas," jelas Takuya dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan, "Toyota bersama stake holders lainnya dapat menguji dan melatih secara langsung riset yang ada secara terintegrasi dalam ekosistem kota lewat segala bentuk aktivitas manusia, dan berupaya untuk memaksimalkan potensinya demi menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik."
Empat pilar utama jadi fondasi di sini: People, Goods, Information, dan Energy. Semua saling terkait. Solusi mobilitas dikembangkan berdasarkan aktivitas nyata masyarakat sehari-hari. Bukan sekadar teori di atas kertas.
Laboratorium Hidup yang Mulai Beroperasi
Gagasan Woven City sebenarnya sudah diperkenalkan sejak Consumer Electronics Show 2020. Baru pada September 2025, kota ini resmi diluncurkan. Luas awalnya 50.000 meter persegi cukup kecil untuk ukuran kota. Tapi rencananya, akan diperluas hingga 708.000 meter persegi.
Tahap awal, sekitar 360 orang tinggal di sana. Mereka campuran: peneliti dan karyawan Toyota. Target ke depannya, jumlah penghuni bisa mencapai 2.000 orang. Dua kelompok utama dibentuk: Inventor yang mengembangkan inovasi, dan Weaver yang jadi pengguna sekaligus pemberi masukan langsung.
Soal energi, Woven City mengandalkan hidrogen. Teknologi fuel cell seperti yang dipakai Toyota Mirai menjadi tulang punggung. Semua sistem kota terhubung lewat data dan sensor. Uji coba berjalan secara real-time. Nggak ada lagi istilah "nunggu laporan bulanan".
Filosofi Kakezan dan Peran AI yang Makin Sentral
Ada satu acara bernama Kakezan. Namanya terdengar filosofis, dan memang begitu. Intinya, Toyota percaya kolaborasi itu seperti perkalian: kalau digabung dengan mitra, kekuatan jadi berlipat. Bukan sekadar tambah-tambahan biasa.
Di dalam Woven City, AI bukan sekadar pelengkap. Ia jadi tulang punggung. Ada AI Vision Engine yang bisa membaca kondisi lingkungan secara langsung. Ada juga Integrated ANZEN System gabungan berbagai teknologi AI yang fokus pada keselamatan.
Jap Ernando Demily, Vice President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), nggak ragu soal ini. Menurut dia, masa depan mobilitas bakal sangat bergantung pada kecerdasan buatan.
"Toyota melihat bahwa perkembangan solusi mobilitas di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI)," ujarnya.
Ia menekankan, inovasi berbasis AI bukan cuma bikin hidup lebih mudah. Lebih dari itu, teknologi ini bikin segalanya lebih inklusif, lebih aman, lebih nyaman, dan yang paling penting lebih bermanfaat.
"Dengan dukungan teknologi canggih yang terus dikembangkan, produk dan layanan Toyota dirancang untuk dapat terus diperbarui baik dari sisi kapabilitas maupun pendekatan sehingga selalu relevan dan dapat diandalkan oleh Masyarakat," jelas Jap.
"Lebih dari itu, seluruh inovasi ini merupakan bagian dari komitmen Toyota dalam mewujudkan 'Mobility for All' secara global," pungkasnya.
Woven City, pada akhirnya, bukan cuma proyek teknologi. Ini semacam pernyataan: bahwa masa depan mobilitas nggak bisa dibangun sendirian. Butuh kolaborasi, butuh data, butuh manusia yang mau tinggal dan belajar di dalamnya. Dan Toyota, tampaknya, serius menjalankan eksperimen ini.
Artikel Terkait
Kapolri Gelar Rakor Lintas Sektoral Antisipasi Dampak Eskalasi Global
Ketidakselarasan Kebijakan Antar Kementerian Dinilai Jadi Sumber Utama Masalah Tata Kelola Sawit Nasional
Presiden Lebanon Sebut Negosiasi Langsung dengan Israel untuk Akhiri Perang, Sindir Hizbullah Lakukan Pengkhianatan
Menteri PPPA Usul Gerbong Khusus Wanita Dipindah ke Tengah Rangkaian KRL Demi Keselamatan