Dari Gilgamesh ke Amazon: Kisah Abadi Manusia dan Kutukan Hutan

- Jumat, 09 Januari 2026 | 08:00 WIB
Dari Gilgamesh ke Amazon: Kisah Abadi Manusia dan Kutukan Hutan

Gilgamesh & Global Antropogenik

Jimmy H Siahaan

Epos Gilgamesh, kisah dari Mesopotamia kuno yang masih menggema hingga hari ini. Versi paling awal yang kita miliki berasal dari abad ke-18 SM, sering disebut versi "Babilonia Kuno". Judulnya, Shūtur eli sharrī, kurang lebih berarti "Melampaui Semua Raja Lain".

Namun begitu, versi yang lebih lengkap dan terkenal justru muncul belakangan. Disusun oleh seorang juru tulis bernama Sîn-lēqi-unninni sekitar abad ke-13 hingga ke-10 SM, kisah ini dibuka dengan kalimat Sha naqba īmuru "Dia Yang Melihat Kedalaman".

Ceritanya sendiri berpusat pada dua tokoh: Gilgamesh, sang raja Uruk yang perkasa namun semena-mena, dan Enkidu, manusia liar ciptaan dewa yang ditugaskan untuk menghentikan kelalimannya. Setelah dijinakkan oleh Shamhat, Enkidu pun berangkat ke Uruk. Di sana, ia menantang sang raja. Pertarungan sengit terjadi, tapi akhirnya mereka justru menjadi sahabat karib.

Bersama-sama, mereka melangkah ke petualangan besar: menuju Hutan Cedar yang legendaris. Perjalanan enam hari itu berakhir dengan kematian Humbaba, sang penjaga hutan, dan penebangan pohon cedar suci. Tindakan ini memicu murka dewi Ishtar. Karena ditolak cintanya oleh Gilgamesh, ia mengirim Banteng Surga untuk menghancurkan Uruk. Lagi-lagi, kedua pahlawan itu berhasil mengalahkannya.

Tapi penghinaan terhadap dewa tak pernah berakhir baik. Sebagai hukumannya, para dewa memutuskan untuk mencabut nyawa Enkidu dengan penyakit yang mengerikan. Kematian sahabatnya itu menghancurkan hati Gilgamesh, sekaligus membawanya pada pencarian yang lebih gila: mencari rahasia kehidupan abadi.

Perjalanan panjang dan berbahaya itu akhirnya membawanya bertemu Utnapishtim, satu-satunya manusia yang selamat dari banjir besar yang dihantamkan para dewa. Dari lelaki itu, Gilgamesh mendapat pelajaran pahit.

"Kehidupan, yang kau cari, tidak akan pernah kau temukan. Ketika para dewa menciptakan manusia, mereka menyisipkan kematian sebagai takdirnya, dan menahan kehidupan abadi di tangan mereka sendiri."

Kisah itu berakhir di sana. Tapi, tahukah Anda? Narasi tentang hutan cedar dan banjir besar itu ternyata belum benar-benar usai. Ia berlanjut, dalam bentuk yang berbeda, di dunia nyata kita sekarang.

Gerakan Membeli Hutan: Saat Warga Ambil Alih

Belakangan ini, gerakan "membeli hutan" ramai diperbincangkan. Inisiatif yang dipopulerkan kelompok seperti Pandawara Group ini muncul dari rasa frustrasi. Masyarakat umum, yang prihatin melihat laju deforestasi yang tak terbendung, mulai mengumpulkan dana secara gotong royong. Tujuannya sederhana tapi monumental: membeli lahan hutan agar tak dialihfungsikan jadi perkebunan sawit atau tambang.

Ini adalah bentuk kekecewaan publik yang nyata. Sebuah sinyal bahwa banyak orang merasa negara lamban, atau bahkan gagal, dalam melindungi khazanah hijau di Sumatera dan tempat lainnya.

Fenomena ini bukan cuma terjadi di Indonesia. Di belahan dunia lain, orang-orang dengan sumber daya besar juga melakukan hal serupa, meski skalanya berbeda jauh.

Johan Eliasch, miliarder asal Swedia, mengambil langkah radikal dengan membeli 400.000 hektare hutan hujan Amazon untuk dilindungi. Sementara itu, di Amerika Serikat, pendiri CNN Ted Turner mengelola sekitar 772.000 hektare tanah untuk konservasi bison dan habitat liar.

Kisah yang mungkin paling inspiratif datang dari pasangan Douglas dan Kris Tompkins. Mereka membeli ratusan ribu hektare lahan di Patagonia, yang akhirnya diserahkan kepada negara untuk dijadikan Taman Nasional. Pumalín Douglas Tompkins National Park saja luasnya lebih dari 400.000 hektare.

Selain mereka, masih ada nama-nama besar lain yang mendanai perlindungan hutan. Hansjörg Wyss melalui yayasannya, Yvon Chouinard pendiri Patagonia, hingga Jeff Bezos dan George Soros yang mendanai proyek reforestasi global. Di Skotlandia, Anders Holch Povlsen membeli sekitar 89.000 hektare tanah untuk proyek "rewilding" atau pengembalian alam ke keadaan liarnya.

Tembok Hijau China: Ambisi yang Mengubah Lanskap

Kalau bicara skala raksasa, mungkin tak ada yang menandingi China. Sejak 1978, negara ini menjalankan Three-North Shelter Forest Program, atau yang lebih dikenal sebagai Tembok Hijau Raksasa. Proyek reboisasi terbesar di dunia ini adalah upaya ambisius untuk membendung gurun yang meluas di wilayah utara.

Bayangkan, sebuah "tembok" hijau sepanjang 4.500 kilometer, dengan luas mencapai 35,6 juta hektare. Mereka menargetkan penanaman 100 miliar pohon, dan baru akan rampung pada 2050. Dampaknya? Frekuensi badai pasir di China utara dilaporkan menurun. Meski begitu, beberapa ilmuwan berpendapat penurunan ini tak lepas dari faktor iklim lain, seperti perubahan pola hujan.

Namun, capaian di lapangan sulit dibantah. Wilayah seperti Gurun Kubuqi di Mongolia Dalam, atau Babusha di Gansu, yang dulu gersang, kini mulai menghijau. Proyek ini adalah bukti bahwa rekayasa ekologi dalam skala masif memang mungkin dilakukan.

Hutan Rusia: Jiwa Sebuah Bangsa yang Tegang

Lalu, bagaimana dengan Rusia? Negeri ini punya hubungan yang kompleks dan mendalam dengan hutannya. Pernah ada yang bilang, "Rusia memiliki lebih banyak pohon daripada bintang di galaksi kita." Itu bukan omong kosong. Di Bima Sakti diperkirakan ada 200 miliar bintang. Sementara pohon di hutan Rusia jumlahnya sekitar 642 miliar.

Hutan yang membentang dari Arktik hingga Pasifik ini bukan sekadar pemandangan. Ia adalah karakter, sumber daya, sekaligus medan pertempuran. Ia membentuk identitas nasional simbol beruang yang perkasa. Tapi sikap pemerintah terhadapnya selalu berubah-ubah. Bergantung pada zamannya, hutan bisa jadi sasaran eksploitasi untuk membangun armada, atau justru dilindungi.

Secara politis, hutan adalah ruang perlawanan. Tempat bersembunyi bagi partisan selama Perang Dunia Kedua, yang berhasil menyabotase pasukan Jerman dan menyelamatkan ribuan orang Yahudi. Hingga konflik di Ukraina sekarang, pemahaman medan berhutan tetap jadi kunci.

Tapi hutan juga rapuh. Kebakaran hebat pada 2021 melalap area seluas dua kali Irlandia. Di sisi lain, ia juga tangguh. Lihat saja di zona eksklusi Chernobyl, di mana rewilding terjadi secara alami, mengundang lynx dan beruang kembali.

Seorang aktivis pernah berujar dengan nada sinis, "Tahukah Anda berapa banyak Putin yang pernah ada di zaman kita? Masuklah ke hutan, bersembunyilah, jangan menjulurkan kepala, dan tunggu."

Pohon ek bisa hidup lebih dari seribu tahun. Mereka menyaksikan dinasti dan perang datang pergi. Seperti dalam novel The Overstory karya Richard Powers, sebuah hutan pada akhirnya akan ditentukan oleh orang-orang yang melintasinya.

Amazon yang Sekarat: Dari Paru-Paru Dunia Menjadi Sumber Emisi

Kini, ancaman terbesar justru datang dari perubahan iklim. Hutan hujan Amazon sedang memasuki fase baru yang mengerikan, yang oleh para ilmuwan disebut kondisi "hipertropis". Suhu ekstrem dan kekeringan panjang mendorong ekosistem ini melampaui batas toleransinya keadaan yang diyakini belum pernah terjadi sejak 10 juta tahun lalu.

Studi di jurnal Nature pada Desember 2025 mengonfirmasi hal ini. Kekeringan di bawah suhu yang lebih panas meningkatkan tekanan pada vegetasi secara drastis. Data selama 30 tahun menunjukkan, kematian pohon melonjak hingga 55% selama periode kekeringan panas. Spesies pohon perintis, yang penting untuk regenerasi hutan, adalah yang paling rentan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah pergeseran fungsi Amazon secara fundamental. Selama ini kita mengenalnya sebagai "Paru-Paru Dunia", penyerap karbon raksasa. Sekitar tahun 2020, segalanya berubah. Bagian tenggara Amazon kini justru melepaskan sekitar 1 miliar ton CO2 bersih setiap tahunnya. Ia telah berubah dari penyerap karbon menjadi sumber emisi.

Penyebabnya adalah gabungan mematikan: deforestasi tak terkendali, suhu yang terus naik, dan kekeringan berkepanjangan. Kemampuan alami hutan untuk menyembuhkan diri sendiri sudah terlampaui.

Epilog: Kutukan yang Berulang?

Global antropogenik itulah istilah untuk dampak skala global yang disebabkan ulah manusia. Pemanasan, polusi, perubahan ekosistem akibat industrialisasi dan keserakahan kita. Inilah akar dari semua perubahan iklim modern.

Di Indonesia, tekanan pada hutan belum juga reda. Kita disebut sebagai juara deforestasi. Kalimantan dan Sumatera menjadi saksi bisu. Papua mungkin akan menyusul. Dalam dua dekade, kita sudah kehilangan 11 juta hektare hutan primer.

Sepertinya etos Gilgamesh akan berulang. Sang raja yang menebang pohon cedar suci dan membunuh penjaganya. Kutukan dewa itu kembali bercerita. Apakah kita hanya akan pasrah, lalu menunggu datangnya "pembeli" hutan berikutnya untuk menyelamatkan apa yang tersisa?

Atau, kita akan belajar dari kisah kuno itu, bahwa kehidupan abadi memang tak akan pernah kita temukan. Tapi melindungi kehidupan yang masih ada, itu adalah pilihan yang sepenuhnya ada di tangan kita.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar