Jakarta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta baru saja merilis angka penghematan dari aksi pemadaman lampu yang digelar saat peringatan Hari Bumi, tepatnya pada Sabtu, 25 April 2026 lalu. Aksi yang hanya berlangsung satu jam itu ternyata tidak cuma soal simbolis. Ada dampak nyata yang tercatat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengungkapkan datanya di Jakarta, Senin, 27 April 2026. Menurut dia, dari pemadaman serentak itu, penghematan biaya listrik mencapai angka Rp140.226.312. Bukan cuma itu. Emisi karbon yang berhasil ditekan juga cukup signifikan, yakni sebesar 77,53 ton CO2e (karbon dioksida ekuivalen).
“Dari kegiatan tersebut, tercatat penghematan biaya listrik mencapai Rp140.226.312 serta penurunan emisi karbon sebesar 77,53 ton CO2e,” ujar Dudi.
Lalu, kawasan mana saja yang ikut gelap? Ternyata cukup banyak. Mulai dari ruas jalan protokol, arteri, hingga ikon-ikon kebanggaan ibu kota ikut memadamkan lampunya. Monumen Nasional (Monas), Patung Arjuna Wiwaha, Bundaran HI, sampai Balai Kota DKI Jakarta semuanya tampak gelap gulita mulai pukul 20.30 hingga 21.30 WIB. Suasana kota pun terasa berbeda, lebih tenang, mungkin sedikit misterius.
Di sisi lain, data dari PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya menunjukkan hal lain yang tak kalah menarik. Selain menekan emisi, aksi ini berhasil menghemat konsumsi listrik sebesar 96,91 MWh. Dudi menjelaskan, langkah seperti ini sebenarnya sudah menjadi agenda rutin. Tujuannya jelas: mengedukasi publik sekaligus mengejar target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada tahun 2030.
“Aksi hemat energi yang dilakukan merupakan aksi rutin yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Kegiatan ini juga mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 mengenai Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon,” jelasnya.
Menurut Dudi, capaian ini membuktikan bahwa hal kecil pun bisa berdampak besar. Efisiensi biaya dan manfaat lingkungan berjalan beriringan. Pemerintah pun berharap program berkala semacam ini bisa mendorong warga Jakarta untuk menjadikan penghematan energi sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan cuma seremoni tahunan.
Nah, berbicara soal kebiasaan, Dudi juga menekankan bahwa aksi hemat energi sebenarnya bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana di rumah. Misalnya, mengganti lampu konvensional dengan lampu LED yang lebih hemat listrik. Atau mencabut peralatan elektronik yang tidak dipakai jangan cuma dimatikan, tapi benar-benar dicabut. Juga, mengatur suhu pendingin ruangan secara efisien.
“Kegiatan hemat energi ini dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah masing-masing, seperti mengganti lampu konvensional dengan lampu LED hemat energi, mencabut peralatan elektronik yang tidak dipakai, dan mengatur suhu pendingin ruangan secara efisien,” tutur Dudi.
Pemprov DKI sendiri terlihat optimistis. Mereka percaya, kontribusi kecil dari setiap rumah tangga, kalau dikumpulkan, bakal memberikan dampak besar bagi pengurangan emisi karbon secara global. Pada akhirnya, semua ini demi menciptakan Jakarta yang lebih hijau dan berkelanjutan. Setidaknya, itu harapannya.
Artikel Terkait
Noel Kritik KPK Usulkan Pembatasan Jabatan Ketum Parpol, Sebut Lembaga Antirasuah Keluar Jalur
Pj Gubernur Jateng Dorong Pembangunan Pusat Ekonomi Baru Demi Kemandirian Fiskal dan Pemerataan
Trump Buka Peluang Negosiasi Langsung dengan Iran, Syaratnya Hentikan Program Nuklir
Polres Serang Bekuk Dua Kelompok Curanmor Bersenpi, Motor Curian Dikirim ke Karawang dan Lampung