Utusan Rusia Kritik Gaya Negosiasi AS ke Iran: Berhenti Gunakan Pemerasan dan Ultimatum

- Senin, 27 April 2026 | 08:50 WIB
Utusan Rusia Kritik Gaya Negosiasi AS ke Iran: Berhenti Gunakan Pemerasan dan Ultimatum

Utusan Rusia, Mikhail Ulyanov, angkat bicara soal gaya negosiasi Amerika Serikat terhadap Iran. Ia minta AS berhenti pakai pendekatan pemerasan dan ultimatum. Menurutnya, cara seperti itu nggak bakal mempan.

"AS terbiasa bernegosiasi dari posisi kuat. Ancaman militer, sanksi diperketat itu paket standar mereka," tulis Ulyanov di X, seperti dilansir Aljazeera, Senin (27/4/2026). "Tapi jelas, skema ini mentok kalau dihadapkan sama Iran."

Ia kemudian menambahkan:

"Yang paling masuk akal buat AS sekarang ya tinggalkan semua elemen yang kelihatan seperti pemerasan, ultimatum, dan tenggat waktu. Itu nggak produktif."

Nah, bicara soal konflik perang antara AS dan Israel melawan Iran masih jauh dari titik terang. Belum ada tanda-tanda bakal kelar dalam waktu dekat.

Di sisi lain, ada drama diplomatik yang cukup menarik. Utusan khusus Presiden Donald Trump batal terbang ke Islamabad, Pakistan, untuk putaran kedua perundingan damai dengan Iran. Tadinya rencana sudah matang, tapi tiba-tiba urung.

Trump sendiri sempat menegaskan, pembatalan ini bukan berarti perang bakal langsung berlanjut. Ia bilang masih ada ruang untuk diplomasi, meski nada bicaranya agak sinis.

Menurut laporan AFP, Sabtu (25/4), Gedung Putih sebelumnya mengumumkan bahwa Steve Witkoff dan Jared Kushner dua utusan Trump akan berangkat ke Islamabad. Tujuannya: menggelar "pembicaraan langsung" dengan Iran dan mendorong kemajuan menuju kesepakatan. Rencananya terdengar ambisius.

Apalagi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru saja menyelesaikan kunjungan diplomatiknya ke Pakistan. Ia bertemu Panglima Militer Pakistan Asim Munir yang disebut-sebut sebagai tokoh kunci mediasi plus Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Menlu Ishaq Dar. Semua tampak siap menyambut babak baru negosiasi.

Tapi kemudian Trump bicara ke Fox News. Katanya, perjalanan itu dibatalkan begitu saja.

"Kami yang pegang kendali penuh. Mereka bisa hubungi kami kapan saja. Tapi nggak perlu terbang 18 jam cuma buat duduk-duduk dan bahas hal yang nggak ada ujungnya," ujar Trump, mengutip pernyataannya ke tim sendiri.

Kasar, tapi jujur.

Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araghchi sudah meninggalkan Pakistan. Ia terbang ke Rusia. Agendanya? Membahas gencatan senjata dan situasi Iran langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Entah apa hasilnya, yang jelas diplomasi masih terus bergerak meski jalannya berliku.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar