Pembicaraan Langsung AS-Iran Batal, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Pakistan

- Senin, 27 April 2026 | 08:45 WIB
Pembicaraan Langsung AS-Iran Batal, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Pakistan

Jakarta Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran masih jauh dari kata selesai. Belum ada titik terang yang pasti. Bahkan, utusan khusus Presiden Donald Trump batal terbang ke Islamabad, Pakistan, untuk babak kedua perundingan damai dengan Teheran.

Padahal, sebelumnya sempat ada rencana. Steve Witkoff dan Jared Kushner, dua orang kepercayaan Trump, dijadwalkan menuju ibu kota Pakistan. Tujuannya? Menggelar "pembicaraan langsung" dengan perwakilan Iran. Gedung Putih, dalam pernyataan yang dikutip AFP pada Sabtu (25/4), berharap langkah ini bisa "mendorong kemajuan menuju kesepakatan". Harapan itu, tampaknya, harus ditunda dulu.

Namun begitu, Trump bersikeras. Pembatalan ini bukan berarti perang akan segera berlanjut. "Kami yang pegang kendali penuh," katanya kepada Fox News. Nadanya tegas, sedikit sinis.

"Mereka bisa menghubungi kami kapan saja. Tapi untuk apa terbang 18 jam hanya buat duduk dan membahas hal yang enggak menghasilkan apa-apa?" ujar Trump, seperti dikutip dari pernyataannya kepada timnya.

Di sisi lain, sehari sebelum pengumuman mengejutkan itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru saja menyelesaikan kunjungan diplomatiknya ke Islamabad. Ia bertemu dengan Panglima Militer Pakistan, Jenderal Asim Munir yang disebut-sebut sebagai tokoh kunci dalam mediasi ini serta Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Menlu Ishaq Dar. Pertemuan berjalan, kesan diplomatis pun tercipta. Lalu tiba-tiba, rencana dari pihak Amerika batal.

Ketika jurnalis dari Axios mencecar Trump apakah ini sinyal dimulainya kembali permusuhan? jawabannya singkat. "Tidak. Sama sekali tidak. Kami bahkan belum memikirkannya."

Entah ini strategi, atau sekadar perubahan suasana hati di Gedung Putih. Yang jelas, peta jalan menuju damai masih tampak kabur. Dan Pakistan, yang sempat jadi panggung harapan, kini harus menunggu lagi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar