Orang Tua Sebut Daycare Little Aresha Lebih Sadis dari Guantanamo, Polisi Temukan 53 Anak Jadi Korban Kekerasan

- Senin, 27 April 2026 | 08:05 WIB
Orang Tua Sebut Daycare Little Aresha Lebih Sadis dari Guantanamo, Polisi Temukan 53 Anak Jadi Korban Kekerasan
Berikut adalah hasil penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa yang lebih manusiawi, natural, dan tidak terdeteksi sebagai hasil AI, sesuai dengan instruksi yang diberikan.

Orang tua korban dugaan penganiayaan di daycare Little Aresha masih belum bisa tenang. Mereka menceritakan sendiri betapa sadisnya perlakuan para pengasuh di sana. Setelah melihat bukti videonya? Mereka malah mengibaratkan tempat itu lebih mengerikan dari kamp Guantanamo.

Sebagai gambaran, Kamp Guantanamo itu penjara militer punya Amerika Serikat di Kuba. Dibangun tahun 2002, isinya tersangka teroris. Kontroversial banget, soalnya banyak laporan soal penyiksaan di sana. Nah, orang tua ini bilang daycare-nya lebih sadis dari itu.

Pernyataan itu keluar dari mulut Noorman Windarto, salah satu orang tua korban. Suaranya bergetar pas ngomong. Dia cerita soal kondisi daycare dan kelakuan para pengasuh ke anak-anak mereka.

"Kita ya percaya aja kalau tempatnya luas. Yang bikin konyol, kami itu nggak nanya di sana tuh sebenarnya udah ada berapa anak," ujar Noorman, Minggu (26/4/2026), habis ketemu Wali Kota Jogja.

"Pas tahu di sana ada 50 lebih anak, dari bayi sampai balita, wah... luar biasa. Nggak manusiawi. Kalau sama Kamp Guantanamo, katanya lebih sadis kamp ini," sambungnya.

Noorman sendiri ikut nyusul ke lokasi pas proses penggerebekan polisi, Jumat (24/7). Dia juga sempat lihat video penggerebekannya. Tapi dia ngaku nggak kuat nonton sampai habis.

Dalam video yang diperlihatkan polisi, katanya anak-anak diperlakukan sangat tidak manusiawi. Termasuk anaknya sendiri.

"Saya akhirnya trauma, Mas. Saya trauma kalau lihat video itu, pasti nangis. Jadi saya putuskan, ya udahlah, yang penting ini jadi barang bukti. Saya percaya sama polisi," tambah Noorman.

Orang Tua Datangi Wali Kota

Di sisi lain, rombongan orang tua korban juga mendatangi rumah dinas Wali Kota Jogja. Mereka diterima langsung sama Hasto Wardoyo. Dari pertemuan itu, ada beberapa hal yang disepakati.

Hasto bilang, pertemuan lebih fokus buat dengerin cerita dan keluh kesah para orang tua. Semua ditampung, dicari solusinya, dan disepakati bareng-bareng.

"Pada prinsipnya, mereka minta perlindungan buat anaknya. Soalnya anak-anak ini sekarang kelihatan ada tanda-tanda psikologis yang kurang sehat," jelas Hasto, Minggu (26/4/2026).

"Kita segera bentuk tim pendamping. Butuh psikolog anak, ahli gizi anak, juga ahli parenting," paparnya.

"Yang kedua, orang tua juga stres, kaget. Tadi banyak yang nangis pas cerita. Jadi mereka juga minta pendampingan psikologis," sambungnya.

Selain itu, ada juga bahasan soal tempat penitipan anak ke depan. Soalnya, rata-rata orang tua masih kerja dan butuh daycare yang lebih aman.

"Besok pagi anaknya mau dititipin ke mana? Ini urgen, darurat. Mereka kan pada kerja. Kami bakal cari daycare lain yang aman, amanah, dan sehat," ujarnya.

Terakhir, soal pencegahan. Biar kejadian serupa nggak terulang. Hasto udah perintahkan jajarannya buat mendata semua daycare di wilayahnya. Setelah itu, Pemkot bakal sweeping.

"Paling lama dua hari, kita udah tahu status semua daycare di Jogja. Yang tanpa izin jelas ilegal, harus segera ditutup. Pasti langsung ditutup. Salah satu syarat izin kan divisitasi," tegas Hasto.

Sebelumnya, polisi menggerebek Little Aresha di Umbulharjo, Jogja, Jumat (24/4). Saat penggerebekan, petugas langsung lihat sendiri perlakuan pengasuh ke anak-anak.

"Benar, tanggal 24 kemarin kita lakukan penggerebekan. Petugas melihat langsung anak-anak diperlakukan nggak manusiawi," kata Kasat Reskrim Polresta Jogja, Kompol Riski Adrian, Sabtu (25/4/2026).

"Kesimpulannya, itu tidak manusiawi. Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya. Secara umum, itu yang bisa saya jelaskan," sambungnya.

Dari pemeriksaan sementara, total puluhan anak jadi korban. Tapi penyidik masih terus nyelidiki. Kemungkinan, jumlah korban bisa bertambah.

"Yang kita lihat ada tindak kekerasannya sekitar 53 orang. By data," ungkap Adrian.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar