Ledakan Bom di Kolombia Tewaskan Tujuh Warga Sipil, Kekerasan Memuncak Jelang Pilpres

- Minggu, 26 April 2026 | 04:30 WIB
Ledakan Bom di Kolombia Tewaskan Tujuh Warga Sipil, Kekerasan Memuncak Jelang Pilpres
Berikut adalah hasil penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa manusia yang natural, sesuai dengan instruksi yang diberikan:

Ledakan besar mengguncang sebuah wilayah yang sudah lama dikenal rawan konflik di barat daya Kolombia. Tujuh orang tewas seketika. Lebih dari 20 lainnya mengalami luka-luka, beberapa di antaranya parah.

Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, 25 April. Yang bikin situasi makin panas, ini terjadi di tengah rangkaian kekerasan yang meningkat menjelang pemilihan presiden bulan depan. Suasana udah tegang, dan ledakan ini seolah jadi puncak dari ketegangan yang membara.

Gubernur Cauca, Octavio Guzman, angkat bicara lewat akun media sosialnya. Katanya, sebuah perangkat peledak diledakkan di jalan raya. Akibatnya? Tujuh warga sipil tewas, dan lebih dari 20 orang lainnya menderita luka serius. Dia juga mengunggah video dari lokasi kejadian. Dalam rekaman itu, tampak jelas korban tergeletak di aspal. Ada juga kendaraan yang hancur lebur, ringsek tak berbentuk.

Di unggahan lain yang beredar, kerusakannya tampak lebih parah lagi. Jalanan penyok, dan ada kawah bekas ledakan yang menganga. Menurut sejumlah saksi di tempat, suara ledakannya begitu keras. Beberapa dari mereka mengaku sampai terpental beberapa meter. Kaget, tentu saja.

Nah, sejak hari Jumat, beberapa serangan lain juga dilaporkan terjadi di berbagai titik di Kolombia. Otoritas setempat punya dugaan kuat. Mereka menuding kelompok pembangkang dari gerilyawan FARC yang sudah dibubarkan sebagai dalang di balik semua ini.

Seperti yang kita tahu, sisa-sisa kelompok FARC yang dulu menolak perjanjian damai dengan pemerintah pada 2016 itu masih bergerak. Mereka aktif, dan tujuannya jelas: mengganggu proses perundingan damai yang saat ini mandek dengan Presiden Gustavo Petro, yang berhaluan kiri. Situasi jadi rumit.

Sebelum ledakan besar ini, ada juga serangan bom di sebuah pangkalan militer di Cali pada hari Jumat, 24 April. Dua orang dilaporkan terluka dalam insiden itu. Jadi, ini bukan kejadian yang tiba-tiba, melainkan rangkaian.

Gelombang kekerasan ini jelas bikin tensi politik makin memuncak. Apalagi, pemilihan presiden tinggal menghitung hari, tepatnya 31 Mei. Isu keamanan otomatis jadi salah satu topik utama yang diperdebatkan.

Menariknya, di tengah situasi genting begini, jajak pendapat menunjukkan Senator sayap kiri Ivan Cepeda unggul. Dia dikenal sebagai arsitek kebijakan kontroversial Presiden Petro, terutama soal negosiasi dengan kelompok bersenjata. Di belakangnya, ada dua kandidat sayap kanan: Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia. Persaingan makin ketat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar