TVRINews, Banjarbaru
Gejolak di Semenanjung Arab akhir-akhir ini ternyata tak cuma jadi berita utama. Gelombang kecemasannya merambat cepat ke pasar global, dan salah satu yang langsung terasa adalah lonjakan harga emas. Ya, logam mulia itu kembali jadi primadona di tengah ketidakpastian.
Angkanya cukup mencengangkan. Dalam waktu singkat, harga per gram emas melesat dari Rp3.050.000 ke level Rp3.140.000. Kenaikan yang cukup tajam, dan jelas bercerita banyak. Saat situasi dunia mencemaskan, investor serta masyarakat pun berburu ‘safe haven’ tempat berlindung yang dianggap aman untuk nilai aset mereka.
Di Banjarmasin, suasana ini langsung terpantau. Arif Rachman, Pimpinan Cabang Pegadaian setempat, mengaku melihat kenaikan yang signifikan hanya dalam hitungan jam.
“Hampir mencapai 2,8 dan 2,9 lah kenaikan harganya. Kalau tadi jam 10.00 tadi saya lihat tuh sekitar Rp3.000.100 per gramnya untuk emas 24k dan itu naik dari kemaren yang masih sekitar Rp3.000.050 an. Jadi naiknya lumayan signifikan.”
Yang menarik, pola perilaku masyarakat ikut berubah. Menurut Arif, galeri emas justru ramai dikunjungi orang yang ingin membeli, bukan menjual.
“Masyarakat yang datang ke Pegadaian atau Galeri 24 malah banyak yang berniat untuk membeli, bukan menjual. Yang pertama kalua kami lihat adalah edukasi nasabah terkait investasi emas sudah mulai berubah dan membaik. Kalau zaman dulu harga emas naik orang pada berbondong-bondong ingin jual, tapi sekarang kebalikannya. Begitu harga naik orang banyak yang ingin membeli,” ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.
Perubahan pola pikir itu tampaknya mulai mengakar. Kenaikan harga kini justru memicu minat beli, sebuah sinyal bahwa emas semakin dipandang sebagai instrumen investasi jangka panjang, bukan sekadar komoditas untuk dijual saat harganya mentok.
Namun begitu, tidak semua jenis emas bergerak sama. Di sisi lain, harga emas perhiasan dengan kadar 99 persen masih bertahan di kisaran Rp2.650.000 per gram. Relatif stabil, setidaknya untuk saat ini.
Pemilik toko emas, H. Lani, membenarkan hal itu.
“Kalau untuk harga set ini kami jual di harga Rp2.650.000. Harganya relatif,, masih stabil. Kalau semisal ada konflik, semisal covid seperti kemaren, pasti ada kenaikan harga,” katanya.
Jadi, apa yang terjadi? Ketegangan geopolitik jelas mendorong orang untuk memperkuat ‘pelindung’ portofolio mereka. Emas fisik jadi pilihan. Meski minat membeli menguat, ada imbauan untuk tetap tenang. Berinvestasilah dengan pertimbangan matang, jangan sekadar ikut arus panik atau euforia sesaat karena berita global. Sebab, pasar bisa berubah sewaktu-waktu.
Artikel Terkait
Komisaris Meryana Hartono Mundur dari Indonesian Paradise Property
Polisi Sita Lebih dari 23 Ton Bawang dan Cabai Impor Ilegal di Pontianak
KPK Soroti Delapan Kelemahan Krusial dalam Program Makan Bergizi Gratis
Operasi Besar-besaran DKI Tangkap Lebih dari 1 Ton Ikan Sapu-Sapu