Jakarta Meskipun sempat terlihat lesu, peluang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) buat menembus level 10.000 di tahun ini ternyata masih terbuka lebar. Pemerintah sendiri yang paling yakin. Mereka melihat fondasi ekonomi Indonesia masih kokoh, meski tekanan global sedang kencang-kencangnya. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, punya pandangan sendiri soal ini. Menurutnya, gerak IHSG yang naik-turun belakangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dari luar negeri. Bukan karena ekonomi dalam negeri yang goyah. “Kalau ekonominya bagus, nanti (IHSG) naik cepat. Makanya fokus saya adalah jaga itu (ekonomi), bukan jaga IHSG. Karena IHSG akan menyesuaikan secara otomatis ke fundamental ekonominya,” ujar Purbaya dalam pernyataannya, Sabtu, 25 April 2026. Ia menambahkan, IHSG pasti akan membaik seiring menguatnya fundamental ekonomi nasional. Jadi, prioritasnya sekarang lebih ke menjaga kinerja ekonomi secara keseluruhan, bukan sekadar indeks saham. Nah, sebagai gambaran, pada perdagangan Jumat kemarin, IHSG ditutup melemah cukup dalam. Turun 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan alias LQ45 juga ikut terpuruk, turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke level 690,76. Dari awal perdagangan, IHSG sudah dibuka di zona merah. Sampai sesi pertama berakhir, posisinya masih negatif. Begitu juga di sesi kedua, hingga menjelang penutupan, indeks ini betah di teritori negatif. Kalau dilihat dari sektoral, semuanya kompak melemah. Sebelas sektor tercatat negatif. Yang paling parah adalah sektor barang konsumen non primer, ambles hingga 4,14 persen. Disusul sektor infrastruktur yang turun 4,03 persen, dan sektor barang energi yang melemah 3,82 persen. Menurut Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau yang akrab disapa Nico pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran global terhadap pasokan energi. Di sisi lain, pekan depan para pelaku pasar bakal fokus pada pertemuan bank sentral AS, The Fed, dalam FOMC Meeting. Banyak yang memperkirakan suku bunga acuan masih akan dipertahankan di kisaran 3,53 hingga 3,75 persen. Selain itu, Amerika Serikat juga dijadwalkan merilis sejumlah data penting. Mulai dari consumer confidence, data perumahan, Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026, personal income, personal spending, indeks PCE prices, sampai ISM manufacturing index. Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari Fitch Ratings. Lembaga pemeringkat ini baru saja menurunkan outlook kredit empat bank besar di Indonesia: Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI). Statusnya berubah dari stabil menjadi negatif. Namun begitu, pemerintah tak tinggal diam. Di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah, langkah antisipatif sudah diambil. Untuk melindungi stok minyak mentah, pemerintah mengamankan 150 juta barel minyak dari Rusia. Ini bagian dari strategi energi nasional.
Artikel Terkait
Menlu Iran Temui Panglima Pakistan Bahas Kemungkinan Putaran Baru Dialog Damai dengan AS
Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Seram Bagian Timur, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Trump Perluas Metode Eksekusi Federal dengan Regu Tembak, Kursi Listrik, dan Gas
Apresiasi Pemda Berprestasi 2026 Digelar di Palembang, Kemendagri dan detikcom Bahas Inflasi hingga Creative Financing