AS Kaji Opsi Militer Terbatas di Iran Jika Gencatan Senjata Gagal, Targetkan Panglima IRGC dan Aset Maritim

- Jumat, 24 April 2026 | 16:10 WIB
AS Kaji Opsi Militer Terbatas di Iran Jika Gencatan Senjata Gagal, Targetkan Panglima IRGC dan Aset Maritim

Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan lagi mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. Ini terjadi jika gencatan senjata yang berjalan saat ini gagal total. Rencana awalnya, kata sumber, lebih menyasar individu-individu senior yang selama ini dianggap jadi penghalang negosiasi. Agak spesifik memang.

Menurut laporan CNN, Jumat (24/4/2026), ada satu opsi yang cukup menonjol: serangan terhadap pimpinan militer Iran tertentu. Salah satu nama yang disebut adalah Ahmad Vahidi. Dia itu panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Jadi bukan tokoh sembarangan.

Di sisi lain, para perencana militer AS juga menyiapkan skenario yang lebih luas. Fokusnya? Kemampuan maritim Iran. CNN bilang rencana ini mencakup "penargetan dinamis" terhadap aset-aset di sekitar Selat Hormuz, Teluk Arab bagian selatan, dan Teluk Oman. Kapal serang cepat kecil, kapal penebar ranjau, dan alat-alat asimetris lainnya semua yang biasa dipakai Teheran buat mengganggu jalur pelayaran masuk daftar sasaran.

Selat Hormuz sendiri sudah jadi titik tekanan utama dalam konflik ini. Gangguannya udah bikin pasar global gonjang-ganjing. Dan yang lebih repot, ini mempersulit upaya Presiden AS Donald Trump buat mengendalikan inflasi. Jadi bukan cuma soal militer, ada urusan ekonomi juga.

Nah, yang menarik, operasi AS sebelumnya lebih sering menyasar target yang jauh di dalam wilayah Iran. Tapi rencana baru ini beda. Mereka mau alihkan perhatian ke serangan terkonsentrasi di titik-titik strategis maritim. Namun begitu, sumber-sumber peringatin: tindakan militer aja mungkin nggak cukup buat buka kembali Selat Hormuz dengan cepat.

"Kecuali Anda bisa buktiin secara tegas bahwa 100 persen kemampuan militer Iran hancur... itu akan bergantung pada seberapa besar risiko yang bersedia diterima [Trump]," kata seorang sumber yang tahu soal perencanaan ini ke CNN.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar