Washington, DC – Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon kembali diperpanjang. Kali ini, durasinya tiga minggu. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump.
Pengumuman itu muncul setelah pertemuan di Gedung Putih. Duduk dalam satu meja, ada Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan para duta besar dari Lebanon serta Israel. Juga hadir duta besar AS untuk kedua negara itu. Suasana ruangan, kata Trump, berjalan “sangat baik”.
“Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon,” ujar Trump. “Untuk membantu negara itu melindungi dirinya dari Hizbullah.”
Ia menyebut pertemuan itu sebagai momen bersejarah. Sebuah kehormatan besar, katanya. Tapi, ya, kita tahu sendiri bagaimana politik kadang penuh dengan kata-kata manis.
Yang menarik, perundingan langsung antara Israel dan Lebanon ini adalah yang pertama sejak 1993. Bayangkan, puluhan tahun tanpa komunikasi langsung. Putaran pertama sudah dimulai awal bulan ini di Gedung Putih.
Trump juga mengungkapkan rencana besar. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan datang ke Gedung Putih dalam beberapa minggu ke depan. Topiknya? Mencari kesepakatan damai yang bisa bertahan lama.
“Mereka juga harus memikirkan Hizbullah,” kata Trump, nada bicaranya tegas.
“Kami akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membereskan masalah-masalah di negara itu,” lanjutnya.
Lalu, ia menambahkan, “Saya pikir akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika hal ini bisa diselesaikan secara bersamaan dengan apa yang sedang kami lakukan terkait Iran.”
Gencatan senjata ini sendiri mulai berlaku pada 17 April 2026. Awalnya hanya 10 hari. Kini diperpanjang. Trump punya pesan khusus untuk Hizbullah: patuhi gencatan senjata. “Saya berharap Hizbullah bertindak dengan baik dan benar selama periode waktu yang penting ini,” katanya.
Apa Isi Perjanjian Lebanon-Israel?
Di Beirut selatan, pada 17 April, warga merayakan. Tembakan dilepaskan ke udara. Bukan perang, tapi euforia. Gencatan senjata 10 hari dimulai. (Getty Images)
Kesepakatannya begini: gencatan senjata berlangsung 10 hari, dengan opsi perpanjangan jika perundingan menunjukkan kemajuan. Tapi, ada banyak catatan kaki di baliknya.
- Netanyahu menyebut ini peluang untuk “perjanjian damai bersejarah”.
- Israel tetap memegang hak untuk membela diri, kapan saja, terhadap serangan yang direncanakan atau sedang berlangsung.
- Hizbullah setuju, tapi dengan syarat: penghentian serangan total di Lebanon dan tidak ada kebebasan bergerak bagi pasukan Israel.
- Netanyahu bersikukuh pasukan Israel akan tetap di “zona keamanan” sedalam 10 km di Lebanon selatan. Ini jelas bertentangan dengan tuntutan Hizbullah.
- AS, lewat Kementerian Luar Negerinya, mengatakan pemerintah Lebanon harus mengambil langkah nyata untuk mencegah Hizbullah menyerang Israel.
- Pasukan keamanan Lebanon, kata pernyataan itu, punya tanggung jawab eksklusif atas kedaulatan negara.
- Kedua negara meminta AS terus memfasilitasi pembicaraan langsung untuk menyelesaikan semua isu yang tersisa.
Menjelang gencatan senjata, IDF mengeluarkan pernyataan. Mereka mengaku telah menyerang lebih dari 380 target Hizbullah dalam 24 jam sebelumnya. Sasaran? Peluncur roket, markas, dan anggota Hizbullah.
Apa Kata Berbagai Pihak?
Iran menyambut gencatan senjata ini. Mereka menyebutnya sebagai keberhasilan diplomatik. Tapi, lebih dari itu, mereka melihatnya sebagai hasil dari “perlawanan” Hizbullah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, mengatakan Teheran memandang gencatan senjata ini sebagai bagian dari pemahaman yang lebih luas dengan AS. Pembicaraan yang dimediasi Pakistan, katanya. Ia menekankan Iran secara konsisten mendorong gencatan senjata regional yang lebih luas.
Di Lebanon selatan, seorang anak memegang bendera Iran. (AFP via Getty Images, 17 April 2026). Perayaan.
Para pejabat senior Iran terus menyoroti peran Hizbullah. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menulis di X (dalam bahasa Arab) bahwa kesepakatan itu “tidak lain adalah hasil dari keteguhan Hizbullah dan persatuan Poros Perlawanan”.
Esmail Qaani, komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran, menyebut Hizbullah sebagai “pemenang”. Ia menegaskan kesepakatan itu adalah hasil dari ketangguhan perlawanan Lebanon dan dukungan Republik Islam Iran.
Media pemerintah Iran menggemakan pernyataan itu. Saluran berita IRINN bahkan melaporkan bahwa perlawanan Iran dan Hizbullah “memaksa” AS dan Israel “untuk menerima gencatan senjata 10 hari di Lebanon”.
Di sisi lain, Netanyahu menyebut gencatan senjata sebagai “kesempatan untuk membuat perjanjian damai bersejarah”. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, berharap kesepakatan itu memungkinkan warga yang mengungsi untuk pulang.
Hizbullah sendiri memberi sinyal kesediaan, tapi dengan syarat yang sama: penghentian serangan total dan tidak ada kebebasan bergerak bagi Israel. Kelompok ini, perlu diingat, bukan bagian dari aparat keamanan pemerintah Lebanon.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memuji peran AS. Ia mendesak semua pihak untuk “sepenuhnya menghormati” dan “mematuhi hukum internasional setiap saat”.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyebut kesepakatan itu sebagai “kelegaan”. Eropa, katanya, akan terus menyerukan penghormatan penuh terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah Lebanon.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menambahkan bahwa gencatan senjata harus digunakan untuk “mundur dari kekerasan” dan menciptakan ruang bagi perundingan demi “perdamaian yang lebih berkelanjutan”.
Apa Itu Zona Penyangga Israel?
Meskipun ada kesepakatan, Netanyahu bersikeras. Pasukan Israel akan mempertahankan “zona keamanan” sedalam 10 km di Lebanon selatan.
“Kami ada di sana, dan kami tidak akan pergi,” cetusnya.
Zona penyangga itu, katanya, perlu dipertahankan untuk “menghalangi bahaya invasi”.
Israel kembali memasuki Lebanon selatan pada awal Maret. Mereka menciptakan zona penyangga dengan alasan melindungi komunitas di Israel utara. Sebelumnya, Israel pernah membuat kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah yang mengakhiri 13 bulan konflik. Tapi, serangan kedua pihak hampir terjadi setiap hari.
Bagaimana Kesepakatan Ini Dinegosiasikan?
Israel dan Lebanon menggelar pembicaraan langsung yang jarang terjadi di Washington awal pekan ini. Tujuannya jelas: meredakan perang.
Sejak awal Maret, Israel menggelar serangan udara mematikan di Beirut dan selatan Lebanon. Trump mengatakan kesepakatan tercapai setelah “percakapan yang sangat baik” dengan Aoun dan Netanyahu. Ia tidak menyebut apakah Hizbullah terlibat langsung. Tapi, ia mendesak mereka untuk “bertindak dengan baik dan benar”.
Netanyahu, meskipun menyambut gencatan senjata, menegaskan ia hanya memberikan sedikit konsesi. Hizbullah, katanya, berkeras pada dua syarat: penarikan pasukan Israel dan prinsip “tenang dibalas tenang”.
Tapi, ada kejutan. Pengumuman gencatan senjata itu tampaknya mengejutkan Israel sendiri. Sebuah media Israel menggambarkan Netanyahu mengadakan rapat kabinet keamanan dengan pemberitahuan hanya lima menit sebelum gencatan senjata diumumkan. Bocoran dari pertemuan itu menyebutkan para menteri tidak diberi kesempatan untuk memberikan pendapat.
Apa Kaitannya dengan Perang di Iran?
Ketika gencatan senjata antara AS dan Iran diumumkan, pertanyaan mengemuka: apakah Lebanon terlibat?
Pejabat Pakistan, yang membantu menegosiasikan kesepakatan itu, dan pejabat Iran, mengatakan Lebanon terlibat. Tapi, Israel mengatakan tidak. Juru bicara pers Trump, Karoline Leavitt, kemudian juga mengatakan Lebanon bukan bagian dari kesepakatan tersebut.
Israel menggempur Lebanon pada 2 Maret sebagai respons atas serangan Hizbullah akibat serangan AS dan Israel ke Iran. Sejak saat itu, kedua pihak saling berbalas serangan. Perdana Menteri Lebanon memohon, tapi tak digubris.
Lebih dari 2.100 orang telah tewas dan 7.000 lainnya luka-luka akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon. Jumlah itu mencakup sedikitnya 260 perempuan dan 172 anak-anak. Sembilan puluh satu tenaga kesehatan tewas, 208 lainnya luka-luka. Lebih dari 120 serangan Israel menghantam ambulans dan fasilitas medis. Analisis BBC Verify menemukan lebih dari 1.400 bangunan di Lebanon hancur.
Di pihak Israel, serangan Hizbullah menewaskan dua warga sipil dan 13 tentara Israel tewas dalam pertempuran di Lebanon, menurut otoritas Israel.
Pada Kamis (16/04), militer Israel menghancurkan jembatan terakhir yang menghubungkan wilayah selatan dengan bagian lain negara itu. Wilayah itu kini terisolasi. Warga Lebanon khawatir, situasi ini bisa mengarah pada pendudukan jangka panjang.
Artikel Terkait
Kecelakaan di Tol Jagorawi, Dua Mobil Terlibat Tabrakan Beruntun Akibat Gagal Jaga Jarak
ICC Resmi Nyatakan Duterte Bisa Diadili atas Kejahatan Kemanusiaan dalam Perang Narkoba Filipina
Indonesia Amankan Impor 150 Juta Barel Minyak Mentah dari Rusia
PM Jepang Sanae Takaichi Curhat Kurang Tidur di Tengah Etos Kerja Gila Kerja