Jakarta Indonesia makin dianggap punya potensi besar buat jadi pusat data center di Asia Tenggara. Soalnya, negara-negara lain mulai kehabisan kapasitas. Singapura, misalnya, udah mulai terbatas banget dalam ngembangin infrastruktur digital. Nah, celah ini jadi peluang emas buat Indonesia buat ngegas posisinya sebagai hub data center regional.
Chief Financial Officer Digital Realty Bersama, Krishna Worotikan, bilang pergeseran industri data center di kawasan ini dipicu oleh dua hal: keterbatasan sumber daya di sejumlah negara, dan lonjakan kebutuhan kapasitas digital yang makin nggak karuan di Asia Tenggara.
Menurut dia, Singapura mulai ngetat nggak ngizinin lagi pembangunan data center baru. Alasannya? Pasokan listrik dan air udah mulai menipis.
“Singapura sudah tidak mengizinkan penambahan data center baru karena keterbatasan energi dan air. Di sisi lain, Indonesia masih memiliki keunggulan dari sisi lahan, listrik, dan sumber daya air,” ujar Krishna.
Dia nambahin, kombinasi faktor-faktor ini bikin Indonesia makin strategis buat ekspansi data center entah buat kebutuhan dalam negeri atau buat pasar regional. Dulu, banyak perusahaan Indonesia yang masih nitip data mereka di luar, terutama di Singapura. Tapi tren itu mulai berubah.
“Dua hingga tiga tahun lalu banyak perusahaan Indonesia masih menyimpan data di Singapura. Tapi sekarang, karena keterbatasan ruang di sana, mulai terjadi pergeseran ke Indonesia,” katanya.
Pergeseran ini, lanjut dia, nggak cuma terjadi di perusahaan lokal. Perusahaan global juga mulai ngelirik Indonesia sebagai basis data center buat nopang operasional regional di Asia dan ASEAN. Jadi, Indonesia nggak cuma pasar digital gede, tapi juga punya potensi jadi hub yang ngelayani kebutuhan kawasan.
“Ini bukan hanya soal pasar Indonesia. Dengan ketersediaan lahan, energi, dan air, Indonesia menjadi lokasi yang sangat strategis untuk data center regional maupun global,” ujar Krishna.
Dia negasin, dari Indonesia, perusahaan bisa ngelayani kebutuhan digital kawasan Asia dan ASEAN secara lebih efisien. Apalagi permintaan layanan data center terus naik buat mendukung transformasi digital yang lagi ngebut.
Dukungan Regulasi Dorong Permintaan Data Center
Di sisi lain, Director of Business & Commercial Digital Realty Bersama, Andha Yudha Permana, nambahin kalau pertumbuhan industri ini juga ditopang regulasi. Terutama di sektor perbankan dan jasa keuangan yang diwajibkan nyimpen data di dalam negeri sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan dan bank sentral.Menurut dia, kepatuhan terhadap aturan itu jadi pendorong utama naiknya permintaan layanan data center lokal. Tapi nggak cuma itu. Andha juga nyorot pentingnya infrastruktur data center yang andal buat nopang aktivitas ekonomi digital terutama sektor yang butuh kecepatan, keamanan, dan ketersediaan layanan tinggi.
Dia nyebut, salah satu fasilitas data center yang dikelola sekarang punya posisi strategis. Soalnya, jadi lokasi salah satu bursa terbesar di Indonesia dengan volume trafik data yang gila-gilaan.
“Fasilitas ini menjadi satu-satunya data center yang menampung salah satu bursa terbesar kedua di Indonesia. Ini menjadi keunggulan utama lokasi tersebut,” katanya.
Menurut Andha, kapasitas infrastruktur data center saat ini udah siap ngadepin tekanan dari tingginya volume transaksi digital termasuk pertumbuhan trafik yang nyampe puluhan terabyte per detik. Keberadaan penyedia layanan cloud global di dalam negeri juga makin nguatin ekosistem data center Indonesia. Jadinya, perusahaan bisa ngelayani pelanggan secara lebih efisien dari dalam negeri.
“Dengan ekosistem yang semakin matang, Indonesia tidak hanya menjadi pasar digital, tetapi juga lokasi strategis untuk data center regional,” tutup Andha.
(SAW)
Artikel Terkait
BPKH Bagikan Uang Saku Rp3,4 Juta per Jemaah Haji Embarkasi Solo
Salon Anastasia, Rumah Hangat bagi ODGJ yang Dipandang Sebelah Mata
Pria di Garut Diculik dan Dipaksa Makan Kotoran Ayam, Empat Pelaku Ditangkap
Hiu Tutul Raksasa 15 Meter Terdampar di Lamongan, Warga Gotong Royong Kembalikan ke Laut