Pemerintah Kota Semarang Turun Tangan Tangani Biaya Pengobatan Siswi SMP Korban Pembakaran Paman di Tambakmulyo

- Rabu, 22 April 2026 | 18:00 WIB
Pemerintah Kota Semarang Turun Tangan Tangani Biaya Pengobatan Siswi SMP Korban Pembakaran Paman di Tambakmulyo

Kabar duka datang dari Semarang Utara. Seorang siswi kelas 2 SMP, sebut saja T, jadi korban pembakaran oleh pamannya sendiri. Kejadiannya di Tambakmulyo. Tragis banget.

Pemerintah Kota Semarang langsung bergerak. Nggak pakai lama. Wali kota Agustina Wilujeng, lewat Camat Semarang Utara Siwi Wahyuningsih, langsung turun tangan. Mereka berkoordinasi dengan beberapa dinas DP3A, Dinas Sosial, dan RSWN. Tujuannya jelas: memastikan korban dapat perawatan medis yang layak dan perlindungan. Soalnya, sempat ada kendala biaya pengobatan sebelumnya.

Ini bentuk respons, sekaligus perhatian pemerintah atas musibah yang menimpa warganya. Begitu kata mereka.

“Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A terkait dengan pelindungan perempuan dan anak, karena ini korbannya adalah di bawah umur, SMP kelas 2,” ujar Siwi dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4/2026).

Proses penanganannya dimulai dari pendampingan dan asesmen mendalam. Bareng-bareng sama DP3A Kota Semarang. Nah, sebelumnya korban sempat dibawa ke rumah sakit swasta. Tapi orang tuanya memilih memulangkan karena masalah biaya. Ngenes, ya.

Melihat kondisi itu, pihak kecamatan dan DP3A memutuskan memindahkan korban ke RSUD K.R.M.T Wongsonegoro (RSWN). Di sana, pengobatan bisa lebih intensif.

“Karena tidak bisa di-cover oleh BPJS, karena kemarin kan dibawa ke rumah sakit swasta. Nah, setelah itu dengan adanya kita memberikan bantuan bersama DP3A, pendampingan DP3A, ini kita kirim ke RSWN untuk dilakukan pemeriksaan pengobatan secara intensif,” jelas Siwi.

Kondisi korban? Luka bakarnya mencapai 30 persen. Area lengan kanan sampai punggung. Nggak cuma bantuan medis, Dinas Sosial juga turun. Mereka ngasih bantuan logistik, sembako, buat meringankan beban keluarga selama masa pemulihan.

“Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya (luka) rentan sama bakteri, sama virus,” tutup Siwi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar