Jakarta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) angkat bicara soal masa depan kecerdasan buatan di Indonesia. Menurut mereka, pengembangan AI tidak boleh berjalan tanpa pegangan etika yang jelas. Ini bukan sekadar soal teknologi, tapi juga soal nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijaga.
Wakil Menteri Diktisaintek, Stella Christie, yang menyampaikan hal ini. Ia menekankan satu hal: manusia punya kelebihan yang tidak dimiliki mesin. Kemampuan berpikir abstrak, misalnya. Itu sesuatu yang tidak bergantung pada tumpukan data raksasa. Justru dari sanalah lahir ide-ide besar.
“Kemampuan kita untuk membuat abstraksi dan memahami konsep dari sedikit data adalah sesuatu yang tidak boleh hilang,” ujar Stella dalam pernyataannya, Rabu (22/4/2026).
“Ini harus dijaga dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, karena ini adalah keunggulan kita dibandingkan AI,” tegasnya lagi.
Nah, dari situ, ia lalu menyoroti peran pendidikan tinggi. Menurut Stella, kampus-kampus kita jangan cuma sibuk mencetak lulusan yang jago soal teknis. Lebih dari itu, mereka harus mampu membentuk pola pikir kritis dan konseptual. Sebab, kemajuan teknologi termasuk AI pada dasarnya lahir dari pemikiran fundamental. Bukan dari sekadar mengikuti tren.
“Penting bagi kita untuk terus belajar berpikir dan berkontribusi pada pengetahuan baru demi kemanusiaan. Ini tugas utama pendidikan tinggi,” jelasnya.
Di sisi lain, Stella juga sadar betul bahwa perkembangan AI membawa tantangan. Ancaman keamanan siber, misalnya. Belum lagi potensi penyebaran informasi yang tidak akurat. Semua itu nyata dan sudah di depan mata.
Namun begitu, ia juga melihat sisi positifnya. AI membuka peluang besar, terutama dalam memperluas akses pendidikan dan membantu proses verifikasi informasi. Jadi, bukan semata-mata soal ancaman.
Karena itu, menurutnya, kita butuh kebijakan yang adaptif dan proaktif. Bukan yang reaktif. Tujuannya jelas: supaya AI bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin, tapi risikonya tetap ditekan.
“Pengembangan AI di Indonesia diharapkan mampu menjadi solusi dalam menghadapi berbagai persoalan berbasis data serta mempercepat kemajuan nasional,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Indonesia Desak Investigasi Tuntas Serangan ke Pasukan UNIFIL di Lebanon
Pemerintah Targetkan Pembangunan PLTN Dimulai 2027
Nice Lolos ke Final Piala Prancis Usai Kalahkan Strasbourg 2-0 Berkat Dua Gol Wahi
Pengamat: Desain Kelembagaan Kunci Indonesia Peringkat Kedua Ketahanan Energi Global