Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk SNBT 2026 baru saja dimulai, tapi kabar soal kecurangan sudah mencuat. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengaku pihaknya menemukan beberapa indikasi curang di sejumlah lokasi tes. Ia punya pesan khusus buat calon mahasiswa: andalkan kemampuan diri sendiri, jangan cari jalan pintas.
Menurut Brian, pemeriksaan ketat dengan metal detector di pintu masuk ruang ujian berhasil mengungkap salah satu modus. "Memang pada sesi pertama hari ini ditemukan beberapa indikasi kecurangan di beberapa lokasi," ujarnya kepada wartawan, Rabu (21/4/2026).
"Untuk modus penggunaan alat bantu, misalnya, itu dapat terdeteksi karena seluruh peserta diperiksa terlebih dahulu dengan metal detector sebelum memasuki ruang ujian."
Di sisi lain, ada juga modus yang lebih canggih: rekayasa foto. Brian menjelaskan, panitia pusat SNPMB sudah mengantisipasinya dengan teknologi pengenalan wajah dan dukungan kecerdasan buatan.
"Demikian juga dengan modus rekayasa foto. Sejak awal, kami bersama Panitia Pusat SNPMB pada pelaksanaan SNBT sudah menggunakan face recognition dan dukungan AI untuk mendeteksi berbagai indikasi kecurangan," katanya.
"Misalnya, apabila ada ketidakwajaran antara asal sekolah dengan lokasi ujian yang dipilih, atau apabila ada peserta yang mendaftar menggunakan foto maupun identitas wajah orang lain."
Untuk saat ini, fokus utama pemerintah adalah memastikan jalannya ujian. "Namun saat ini, fokus utama kami adalah memastikan seluruh rangkaian UTBK berjalan dengan tertib, lancar, aman, dan adil sampai selesai," tegas Brian.
"Semua temuan kecurangan akan dicatat, didalami, dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku."
Ia lantas menyampaikan pesan langsung ke para peserta. Suaranya terdengar lebih personal.
"Pesan saya untuk adik-adik calon mahasiswa: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Kalian sudah belajar dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, tentu juga dengan doa orang tua. Insyaallah, dengan usaha yang baik dan cara yang benar, adik-adik akan mendapatkan hasil terbaik."
Rupanya, modus yang ditemukan cukup beragam. Salah satunya adalah praktik perjokian yang melibatkan satu orang dengan dua identitas berbeda. Pelakunya tersebar di beberapa kampus, seperti Unsulbar, Unesa, dan Universitas Negeri Malang.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof. Eduart Wolok, membeberkan caranya. Sistem pelacakan data berhasil mendeteksi seorang peserta yang mengikuti ujian di tahun 2025, lalu muncul lagi dengan nama berbeda di 2026.
"Jadi ini sengaja dilihat, jadi orang yang sama itu mengikuti UTBK di tahun 2025-2026 untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama, ikut ujian 2025-2026 untuk dua nama. Bisa dipahami ya? Jadi itu sudah pasti merupakan joki yang mengganti," jelas Eduart.
Tapi mungkin yang paling membuat merinding adalah temuan di Universitas Diponegoro, Semarang. Seorang peserta nekat menanamkan alat bantu dengar jauh ke dalam liang telinganya.
"Jadi kita harus bawa, oleh panitia pusat UTBK ini harus dibawa ke dokter THT untuk bisa melepas ini," tutur Edward sambil memperlihatkan raut wajah yang geli sekaligus prihatin.
Benar-benar usaha yang nekat.
Artikel Terkait
Anggota MPR Tegaskan Indonesia Tetap Berpegang pada Prinsip Bebas Aktif di Tengah Dinamika Global
Ibu Muda di Mojokerto Ditahan Polisi Usai Viral Memaki dan Menyoyor Anak Kecil
Leicester City Degradasi ke League One, Sepuluh Tahun Setelah Jadi Juara Premier League
Pemprov Jateng Hibahkan Lahan untuk Percepatan Sertifikasi Halal