Dankor Brimob Tegaskan Kekuatan Fisik Hanya Opsi Terakhir dalam Penanganan Aksi Massa

- Rabu, 22 April 2026 | 03:30 WIB
Dankor Brimob Tegaskan Kekuatan Fisik Hanya Opsi Terakhir dalam Penanganan Aksi Massa

Dankor Brimob: Penanganan Massa Tak Lagi Andalkan Kekerasan

DEPOK – Komjen Ramdani Hidayat punya pesan jelas soal cara Brimob menghadapi aksi massa. Usai Rakernis di Mako Korbrimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Selasa kemarin, ia menegaskan bahwa pasukannya adalah opsi terakhir. Bukan garda depan.

Menurutnya, pendekatan sekarang sudah berubah. Kekerasan bukan lagi andalan utama. “Penanganan massa sekarang tidak harus dengan kekerasan,” ujar Ramdani.

Ia menjelaskan, ada tahapan yang harus dilalui. Fungsi lain di kepolisian, seperti Binmas dan Sabhara, akan dikerahkan lebih dulu untuk pendekatan dan dukungan. Baru jika situasi benar-benar memanas, Brimob akan bergerak.

“Jadi kekuatan Brimob adalah kekuatan terakhir,” tegasnya.

Di sisi lain, Ramdani ingin meluruskan persepsi. Brimob, katanya, bukan pasukan huru-hara. Tugas utama mereka justru mencegah anarkisme sebelum terjadi. “Anarkisnya ya kita utamakan untuk pencegahan sampai penindakan,” jelasnya.

Soal unjuk rasa, ia menyebut kebebasan menyampaikan pendapat tetap dijamin. Namun begitu, ada batasannya. Aksi itu tak boleh mengarah pada pengrusakan, pembakaran, atau membahayakan nyawa.

“Kalau sampai pengrusakan, pembakaran, kemudian membuat jiwa seseorang terancam bahkan sampai meninggal dunia, baru kita tindak,” ucap Ramdani tegas.

Rakernis yang digelar, lanjutnya, memang bertujuan menyamakan persepsi ini di seluruh jajaran. Dari pusat hingga daerah. Agar semua satu pemahaman dalam menangani situasi.

“Salah satunya adalah untuk menyampaikan persepsi baik dari tingkat pusat sampai di daerah khususnya,” pungkasnya menutup pembicaraan.

Rabu, 22 April 2026

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar