KPK Ungkap Peran Krusial Circle Terdekat dalam Jaringan Korupsi

- Selasa, 21 April 2026 | 15:05 WIB
KPK Ungkap Peran Krusial Circle Terdekat dalam Jaringan Korupsi

Korupsi itu jarang sekali dikerjakan sendirian. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengungkap pola yang sudah jadi rahasia umum: para koruptor punya lingkaran dalam atau 'circle' yang selalu siap membantu. Orang-orang terdekat inilah yang kerap berperan sebagai perantara, menciptakan lapisan-lapisan rumit untuk mengaburkan jejak uang haram.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengonfirmasi hal itu. Dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/4/2026), dia menjelaskan bahwa pola ini muncul di banyak kasus yang mereka tangani.

"Dalam berbagai perkara tindak pidana korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, kami melihat adanya pola keterlibatan sejumlah 'circle' di sekitar pelaku utama," kata Budi.

Menurutnya, lingkaran ini bukan sekadar teman biasa. Mereka punya peran aktif dan krusial.

"Circle ini tidak hanya berperan pada saat modus operandi korupsi dilakukan, tetapi juga sering kali menjadi layering melakukan penerimaan uang hasil tindak pidana korupsi, maupun dijadikan sarana untuk menyamarkan dan mengalirkan uang hasil dugaan tindak pidana korupsi," ujarnya.

Jadi, sederhananya, 'circle' koruptor itu punya dua tugas utama: jadi perantara penerimaan uang dan sekaligus 'tukang cuci' yang mengalirkan dan menyamarkan asal-usul dana tersebut.

Lalu, siapa saja yang biasanya masuk dalam lingkaran ini? Budi menyebutkan, mereka biasanya berasal dari orang-orang terdekat pelaku utama. Mulai dari keluarga, orang kepercayaan pribadi, sampai rekan kerja dan kolega di dunia politik. Ikatan emosional atau loyalitas tinggi membuat mereka mudah diajak kerjasama atau malah terlibat langsung.

Perannya pun beragam. Tidak seragam.

"Ada yang terlibat sejak awal proses perencanaan, bersama-sama melakukan perbuatan, ada juga yang menjadi 'layer' atau perantara dalam penerimaan uang hasil korupsi, hingga pihak-pihak yang membantu menampung atau menyamarkan aliran uang," tutur Budi.

Dari penjelasannya, gambarnya jadi jelas. Korupsi sistematis itu seperti jaring laba-laba, dengan koruptor utama di tengah dan jaring-jaring 'circle' yang membentang ke segala arah. Masing-masing punya tugas, saling menopang, dan tentu saja, berbagi hasil. Pola ini, sayangnya, membuat pemberantasan korupsi jadi lebih sulit. Bukan cuma menangkap satu orang, tetapi harus membongkar seluruh jaringan yang saling melindungi.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar