Washington, 21 April 2026 Laporan terbaru Pentagon mengungkapkan biaya berdarah dari operasi militer AS di Iran. Sejak Operasi Epic Fury digulirkan akhir Februari lalu, tercatat 415 personel militer Amerika terluka. Angka yang cukup signifikan ini dirilis Departemen Pertahanan AS pada Senin kemarin.
Tak hanya korban luka, data resmi itu juga mengonfirmasi hal yang lebih tragis: 13 prajurit AS tewas dalam konflik tersebut.
Semua ini berawal dari sebuah aksi militer besar-besaran pada 28 Februari. AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran, sebuah operasi yang diklaim telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Situasi di Timur Tengah pun langsung memanas, ketegangannya meroket dalam hitungan hari.
Iran tak tinggal diam. Sebagai balasannya, Teheran melepaskan ratusan rudal dan drone. Sasaran mereka adalah Israel, plus sejumlah negara tetangga yang dianggap menyimpan aset militer Amerika. Kawasan itu jadi seperti bubuk mesiu yang siap meledak kapan saja.
Upaya meredakan konflik akhirnya dilakukan. Lewat mediasi Pakistan, gencatan senjata dua minggu diumumkan pada 8 April. Bahkan, terjadi hal yang cukup langka: perwakilan Washington dan Teheran bertatap muka langsung di Islamabad tiga hari kemudian. Sayangnya, pembicaraan itu buntu. Tak ada kesepakatan yang dihasilkan.
Kini, para mediator masih terus berupaya. Mereka berusaha keras untuk menggelar lagi putaran negosiasi di Islamabad, berharap bisa menemukan titik terang secara diplomatik.
Di tengah kebuntuan itu, Presiden AS Donald Trump masih bersikap optimis.
“Kesepakatan dengan Iran masih mungkin tercapai,” ujarnya.
Sinyal dari Iran sendiri terlihat campur aduk. Mereka belum juga memastikan apakah akan mengirim delegasinya lagi ke Pakistan atau tidak. Situasinya benar-benar digantung.
Sementara waktu terus berjalan. Gencatan senjata itu sendiri ditenggat berakhir Selasa ini, atau Rabu waktu AS. Menanggapi hal ini, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memberikan pernyataan yang keras. Ia mengancam bahwa Iran akan berperang dengan "kartu baru" jika kesepakatan dengan Amerika tak kunjung terwujud sebelum batas waktu itu.
Ancaman itu menggantung di udara. Semua pihak kini menunggu, apakah perang akan berkobar lagi, atau jalan damai masih punya celah.
Artikel Terkait
Tokoh Perdamaian Malino Bela JK, Tegaskan Ceramah UGM Bukan Penistaan Agama
Ahmad Dhani Konfirmasi Rencana Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju pada 26 April 2026
Bareskrim Ungkap Modus Helikopter hingga Plat Palsu dalam Penyalahgunaan BBM Subsidi
ALMI Belum Temukan Investor, Upaya Penuhi Free Float Masih Terkendala