Lebanon Catat 2.387 Tewas Akibat Serangan Israel Sejak Maret

- Selasa, 21 April 2026 | 03:15 WIB
Lebanon Catat 2.387 Tewas Akibat Serangan Israel Sejak Maret

Angka korban jiwa di Lebanon akibat serangan Israel terus bertambah. Pemerintah setempat baru saja merilis data terbaru yang cukup mencengangkan: sejak Maret lalu, tak kurang dari 2.387 orang dilaporkan meninggal dunia.

Namun begitu, jumlah itu belum mencakup mereka yang cedera. Menurut laporan Al Jazeera Selasa (21/4/2026), Unit Manajemen Risiko Bencana Lebanon mencatat ada 7.602 orang yang menderita luka-luka dalam periode yang sama. Sungguh angka yang tak mudah dicerna.

Sejak gencatan senjata 10 hari diumumkan dan mulai berlaku Jumat (17/4) lalu, situasi agak berubah. Pihak berwenang dan tim penyelamat akhirnya bisa masuk ke daerah-daerah yang sebelumnya jadi sasaran serangan paling berat. Mereka sibuk mengais reruntuhan, mencari jenazah yang tertimbun. Pekerjaan yang muram dan melelahkan.

Semua ini berawal pada 2 Maret. Lebanon terseret ke dalam konflik yang lebih luas antara AS-Israel melawan Iran, setelah Hizbullah sekutu Teheran melepaskan roket ke Israel. Tanggapan Israel keras dan segera: serangan udara dan invasi darat pun dilancarkan.

Gencatan senjata yang kini berlaku tak muncul tiba-tiba. Ini hasil dari pembicaraan yang intens. Bahkan, pada Selasa (14/4), terjadi pertemuan langka di Washington DC. Duta Besar Israel dan Lebanon duduk satu meja, dengan Amerika Serikat sebagai penengah.

Dua hari setelah pertemuan itu, mantan Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman.

"Saya baru saja melakukan percakapan yang luar biasa dengan Presiden Joseph Aoun yang sangat dihormati, dari Lebanon, dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu, dari Israel. Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata selama 10 hari pada pukul 17.00 sore EST,"

Begitu kira-kira pernyataannya di Truth Social, Kamis (16/4) pagi waktu AS. Gencatan senjata itu sendiri mulai berlaku tengah malam waktu setempat, baik di Tel Aviv maupun Beirut.

Kini, dunia menunggu. Sepuluh hari bukan waktu yang panjang. Di Lebanon, selain duka, yang tersisa adalah pertanyaan: apa yang akan terjadi setelah ini?

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar