Di sebuah ruang sidang di Purwokerto, suasana sosialisasi antikorupsi Minggu lalu cukup cair. Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo berbicara blak-blakan. Topiknya klasik tapi selalu menarik: bagaimana uang hasil korupsi akhirnya menghilang. Menurut Ibnu, jarang ada kasus korupsi yang berdiri sendiri. Biasanya, ia selalu beriringan dengan upaya pencucian uang atau TPPU.
“Kalau ada korupsi muncul, biasanya akan muncul TPPU,” ujar Ibnu dalam acara yang disiarkan lewat kanal YouTube Pengadilan Negeri setempat.
“Bisa bersama-sama, bisa sesudahnya. Kalau bareng, komplit sudah buktinya. Kalau sendiri-sendiri, ya kita kejar dulu tindak pidana pokoknya, baru TPPU-nya menyusul.”
Acara yang digelar di PN Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah itu memang bertema penguatan integritas. Tapi paparan Ibnu justru membuka tabiat para koruptor yang sudah seperti buku terbuka. Katanya, begitu dapat uang haram, mereka langsung bingung sendiri. Uang miliaran itu harus disamarkan, dan caranya beragam.
Diberikan ke istri, ke anak, buat sumbangan amal, atau sekadar buat piknik mewah. Semua dilakukan agar asal-usul uang itu tak terlacak.
“Ditaruh di kolong tempat tidur takut dimakan kecoa. Ditaruh di tabungan biasa takut ketahuan PPATK,” candanya, disambut gelak hadirin.
Namun begitu, ada satu pola yang menurut Ibnu kerap terjadi. Para koruptor yang 81% di antaranya laki-laki ternyata juga mengalirkan uang haram itu ke selingkuhan. Ibnu lalu menyelipkan cerita dengan gaya bercerita yang hidup.
“Lihat yang cantik-cantik di sana, didekati. ‘Adindaku kuliah di mana?’ ‘Hai, Mas…’ Padahal sudah tua, masih dipanggil ‘Mas’. ‘Kok bilang Mas?’ ‘Karena Bapak masih muda,’” ujarnya menirukan percakapan.
“Itu cerita, tapi betul adanya. Ratusan juta bisa dikucurkan ke cewek itu.”
Di sinilah, menurut Ibnu, penerima uang haram itu sebenarnya sudah terlibat sebagai pelaku pasif TPPU. Mereka menerima, menabung, atau menyimpan uang yang seharusnya mereka duga berasal dari kejahatan.
“Kita harus menduga bahwa uang itu berasal dari kejahatan. Setidak-tidaknya, diduga kuat dari sana,” tegasnya.
Jadi, korupsi dan pencucian uang bagai dua sisi mata uang yang sama. Satu untuk mengambil, satunya lagi untuk menyembunyikan. Dan pola penyamaran itu, ternyata tak hanya melibatkan keluarga inti, tapi juga hubungan di luar ikatan resmi.
Artikel Terkait
Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu Ancam Ekosistem Perairan Indonesia
Satpol PP Gerebek Pesta Miras di Indekos Metro, 7 Remaja Putri Diamankan
Houthi Siaga Penuh dan Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb
Jibom Brimob Sterilisasi GBK untuk Keamanan Womens Day Run