Warga Lebanon Selatan Menyeberangi Sungai Berbahaya Demi Pulang Usai Gencatan Senjata

- Minggu, 19 April 2026 | 01:15 WIB
Warga Lebanon Selatan Menyeberangi Sungai Berbahaya Demi Pulang Usai Gencatan Senjata

Jembatan itu sudah tidak ada lagi. Hanya puing-puing besi yang menjulang di atas Sungai Litani, sisa dari serangan udara yang menghantam tepat sebelum gencatan senjata berlaku. Itulah pemandangan yang dihadapi warga Lebanon Selatan pada Jumat, 17 April 2026, ketika mereka berusaha pulang. Tanpa pilihan lain, beberapa dari mereka nekat menerjang arus sungai dengan kendaraan mereka. Sebuah risiko besar demi menginjak tanah rumah mereka kembali.

Di lokasi, terlihat juga orang-orang berjalan hati-hati meniti reruntuhan jembatan. Sementara di bawah, mobil-mobil perlahan menyusuri tepian sebelum masuk ke dalam air. Suara mesin yang menderu bercampur dengan gemuruh arus. Sebuah upaya yang menggambarkan betapa kuatnya keinginan untuk pulang.

Salah seorang warga, wajahnya lega meski tubuhnya lelah, mengungkapkan perasaannya.

"Akhirnya, setelah 40 hari menunggu di pengungsian, saya bisa kembali," katanya sambil membantu orang lain yang hendak menyeberang. "Ini bukan hal mudah, tapi setidaknya kami sampai."

Latar belakang keputusasaan ini bermula dari aksi militer Israel yang dengan sengaja menghancurkan sejumlah jembatan penghubung, termasuk Jembatan Qasmiyeh. Tujuannya jelas: memutus jalur logistik Hizbullah di kawasan selatan. Serangan-serangan ini terjadi di saat-saat akhir, jelang berlakunya kesepakatan gencatan senjata yang dijadwalkan mulai Jumat tengah malam waktu setempat.

Namun begitu, di tengah ketegangan, ada secercah harapan. Presiden AS Donald Trump lewat unggahan di Truth Social mengonfirmasi bahwa kesepakatan damai itu benar adanya. Ia menyebut telah berbicara langsung dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan PM Israel Benjamin Netanyahu. Ini adalah perkembangan penting setelah pekan-pekan panjang konflik yang memanas sejak awal Maret.

Dampaknya sungguh masif. Data dari UNHCR mencatat, lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sebuah angka yang menyedihkan, dan kini, bagi sebagian dari mereka, perjalanan pulang yang berbahaya pun harus ditempuh.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar