Harga Minyak Dunia Anjlok 5,9% Usai Selat Hormuz Dibuka Kembali

- Sabtu, 18 April 2026 | 13:45 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok 5,9% Usai Selat Hormuz Dibuka Kembali

Jakarta – Harga minyak dunia anjlok cukup dalam hari ini. Penurunan ini terjadi setelah Selat Hormuz jalur vital yang dilewati seperlima minyak global kembali beroperasi normal. Situasi sebelumnya memang tegang, dengan harga sempat menembus US$100 per barel ketika konflik di Timur Tengah memanas dan Iran menutup selat itu.

Pada Sabtu (18/4) siang, harga minyak Brent tercatat merosot 5,9 persen ke level US$92,41 per barel. Data ini mengutip pantauan trading view sekitar pukul 12.45 WIB. Turunnya harga jelas berhubungan dengan meredanya ketegangan.

Pemicunya adalah pengumuman dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Melalui akun X miliknya, dia menyatakan Selat Hormuz akan dibuka penuh seiring gencatan senjata yang dicapai di Lebanon.

"Seiring dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya dibuka untuk sisa masa gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,"

Begitu bunyi pernyataan Arghchi yang diposting Jumat (17/4/2026) lalu.

Kabar baik ini langsung dapat sambutan dari pemerintah Indonesia. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menilai pembukaan selat itu sebagai sinyal positif. Menurutnya, ini menunjukkan ketegangan geopolitik global mulai mereda dan tentu saja berdampak bagus untuk kondisi energi dunia, termasuk ketahanan energi nasional kita.

"Pemerintah memastikan bahwa ketahanan energi nasional tetap terjaga selama periode ketidakpastian kemarin," kata Anggia.

Dia menambahkan, dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, tekanan terhadap rantai pasok global mulai mereda. "Termasuk terhadap pergerakan harga minyak dunia yang menunjukkan tren penurinan," imbuhnya.

Sebenarnya, pemerintah sudah mengantisipasi skenario gangguan pasokan macam-macam. Caranya dengan memperkuat stok nasional dan mendiversifikasi sumber energi. Jadi, langkah Iran membuka selat itu benar-benar melegakan.

Bagaimana dengan Saham Migas?

Lonjakan harga minyak global beberapa waktu lalu sempat memicu kenaikan saham-saham migas dalam negeri, sebut saja MEDC dan ENRG. Saham-saham itu memang cenderung naik-turun mengikuti sentimen harga minyak mentah dunia, apalagi saat konflik AS-Iran sedang panas.

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, pernah menjabarkan tiga skenario harga minyak berdasarkan tingkat eskalasi perang. Gangguan ringan bisa bawa Brent ke US$80-US$90 per barel. Jika berkelanjutan, bisa melonjak ke US$105-US$115. Yang paling ekstrem, gangguan berkepanjangan bisa dorong harga hingga US$110-US$135 per barel.

Meski arus di Selat Hormuz kini membaik, analis mereka tetap memandang gangguan moderat sebagai skenario dasar. "Meskipun perkembangan terbaru menunjukkan peningkatan arus melalui Selat Hormuz, kami tetap melihat gangguan moderat sebagai skenario dasar kami," tulis riset tersebut.

Karena itu, dalam tiga bulan ke depan, sekuritas itu memperkirakan sektor hulu migas bakal outperform atau lebih baik kinerjanya dibanding sektor lain.

Tapi hari ini, realitanya sejalan dengan turunnya harga minyak dunia, saham migas lokal juga ikut melandai. ENRG di perdagangan Jumat (17/4) ditutup turun 0,28% ke Rp1.780, meski secara tahunan masih naik 11,25%. Sementara MEDC, yang sejak awal tahun melesat 26,39%, kemarin terpangkas 0,58% ke level Rp1.700.

Jadi, pasar tampaknya sedang menyesuaikan diri dengan normalisasi situasi yang baru terjadi.


Catatan Redaksi: Berita ini disajikan untuk informasi, bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi adalah hak dan tanggung jawab pembaca sepenuhnya. Media ini tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar