Kapal China Masuk Perairan Klaim Jepang, Ketegangan Senkaku-Diaoyu Kembai Meningkat

- Selasa, 02 Desember 2025 | 13:20 WIB
Kapal China Masuk Perairan Klaim Jepang, Ketegangan Senkaku-Diaoyu Kembai Meningkat

Ketegangan di Laut China Timur kembali memanas. Dua kapal patroli China dilaporkan memasuki perairan yang diklaim Jepang di sekitar Kepulauan Senkaku, Selasa dini hari. Insiden ini menambah daftar panjang perselisihan maritim antara kedua raksasa Asia itu.

Menurut pernyataan resmi Otoritas Penjaga Pantai Jepang, kapal-kapal China itu akhirnya pergi setelah beberapa jam. Tapi ceritanya tak berhenti di situ. Beberapa kapal lainnya masih terlihat berkeliaran di zona yang sama, menambah suasana mencekam di lokasi.

Nah, pulau-pulau kecil itulah sumber masalahnya. Bagi Tokyo, gugusan itu adalah Senkaku. Sementara Beijing menyebutnya Diaoyu dan mengklaimnya sebagai wilayah berdaulat. Sudah bertahun-tahun, tempat ini jadi ajang cekcok dan saling klaim.

Menurut penjaga pantai Jepang, awalnya kapal-kapal China itu mendekati sebuah kapal penangkap ikan asal Jepang. Merespons hal itu, pihak Jepang langsung bersuara. Mereka meminta kapal-kapal asing tersebut segera angkat kaki atau lebih tepatnya, angkat jangkar dari wilayah yang mereka anggap sebagai perairan teritorialnya.

"Aktivitas kapal-kapal penjaga pantai China yang bernavigasi di perairan teritorial Jepang di sekitar Kepulauan Senkaku, sembari menegaskan klaim mereka sendiri, pada dasarnya melanggar hukum internasional,"

Begitulah kira-kira protes resmi yang dikeluarkan Tokyo. Klaim dan tudingan pun saling berhamburan, seperti biasa.

Insiden terbaru ini nggak datang dari ruang hampa. Latar belakangnya cukup tegang. Bulan lalu, Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, membuat pernyataan yang cukup menggigit. Dia mengisyaratkan kemungkinan intervensi militer jika China menyerang Taiwan. Pernyataan itu jelas bikin Beijing gerah, dan suasana jadi semakin runyam.

Jadi, ini bukan sekadar soal dua kapal yang nyelonong. Ini adalah babak baru dari ketegangan geopolitik yang sudah berlarut-larut. Masing-masing pihak bersikukuh dengan klaimnya, dan situasinya terasa seperti bara dalam sekam kelihatan tenang, tapi siap menyala kapan saja.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar