Seminar bertajuk "Vape dalam Bahaya" digelar Jumat lalu di Cilandak, Jakarta Selatan. Acara ini merupakan kolaborasi antara Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU DKI Jakarta. Fokusnya jelas: mengingatkan para santri tentang ancaman serius dari rokok elektrik yang kini makin populer.
Menurut BNN, bahaya vape itu nyata dan multi-aspek. Irjen Agus Irianto, yang mewakili Kepala BNN, memaparkan temuannya. Secara fisik, bentuk vape seringkali mirip dengan alat pakai narkotika. Ini berisiko tinggi disalahgunakan. Belum lagi soal isinya.
"Zat yang masuk ke dalam tubuh melalui vape tidak sepenuhnya diketahui," tegas Irjen Agus Irianto, Sabtu (18/4).
Ia melanjutkan, kandungan logam dan bahan kimia di dalamnya bisa merusak sel tubuh, memengaruhi jantung, dan mengganggu suplai oksigen yang vital untuk regenerasi sel.
Lebih mengkhawatirkan lagi, dalam sejumlah kasus yang diungkap BNN, ditemukan indikasi kandungan berbahaya. Mulai dari logam berat sampai kemungkinan ganja cair yang dicampurkan di laboratorium ilegal. Intinya, zat di dalam vape seringkali tidak jelas dan berpotensi mematikan.
Sebagai tuan rumah, Ketua RMI NU DKI Jakarta KH Rahmad Zaelani Kiki menegaskan peran strategis pesantren. Menurutnya, pesantren harus jadi benteng moral dan kesehatan. Edukasi bahaya vape, kata dia, harus digencarkan agar para santri punya kesadaran sejak dini untuk menjauhi hal-hal yang merusak diri.
Acara itu sendiri dihadiri sejumlah tokoh. Selain KH Rahmad Zaelani Kiki dan Irjen Agus Irianto, hadir pula Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN) Gus Rofi yang bertindak sebagai host.
Namun, momen yang paling menyentuh justru datang dari seorang bapak lansia. Dengan sukarela, ia maju dan bercerita. Kisahnya pilu: ia kehilangan anak dan keponakannya akibat menggunakan vape.
Keduanya hanya bertahan sekitar satu tahun. Setelah itu, paru-paru mereka mengalami gangguan serius. Hanya dalam dua minggu, nyawa keduanya tak tertolong.
Kesaksian itu langsung menyita perhatian semua peserta. Irjen Agus Irianto pun menanggapi. Ia menyatakan, kisah nyata seperti ini punya daya ungkit yang kuat untuk disampaikan ke publik.
"Pada 26 Juni mendatang, bertepatan dengan Hari Anti Narkotika Internasional, kami akan mengundang bapak ini secara khusus untuk memberikan testimoni," ungkapnya.
Jelas, seminar ini bukan sekadar formalitas. Ada keprihatinan mendalam yang coba disuarakan. Ancaman vape, terutama di kalangan muda seperti santri, dianggap sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan. Butuh aksi nyata dan cerita-cerita personal seperti ini untuk membuka mata banyak orang.
Artikel Terkait
Pasukan Hantu AS dengan Tank Balon Tipu Nazi dalam Perang Dunia II
Kelangkaan Minyakita di Lingga Picu Pedagang Beralih ke Minyak Goreng Mahal
Gelang Haji 2026: Identitas Digital Jemaah untuk Keamanan di Tanah Suci
Polisi Tangkap TH Bang Tile Diduga Tewaskan Mantan Istri di Serpong