Bisnis.com, JAKARTA Di tengah tekanan global yang makin berat, ekonomi China justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhannya melampaui ekspektasi banyak pihak. Padahal, konflik antara AS-Israel dan Iran telah mengacaukan pasokan energi dunia, menciptakan ketidakpastian yang luar biasa.
Data resmi yang dirilis Jumat (17/4) menunjukkan, PDB China tumbuh 5% secara tahunan. Angka ini mengalahkan proyeksi para ekonom yang cuma memperkirakan sekitar 4,8%. Rilis ini jadi yang pertama sejak Beijing memangkas target pertumbuhan tahunannya ke kisaran 4,5%-5% level terendah dalam tiga dekade terakhir.
Padahal, latar belakangnya suram. Eskalasi di Timur Tengah sejak akhir Februari lalu benar-benar mengguncang pasar energi. Negara-negara Asia, termasuk China, merasakan dampaknya lewat lonjakan harga yang tak terhindarkan.
Menurut sejumlah analis, motor penggeraknya tak lain adalah sektor manufaktur. Secara kuartalan, ekonominya pulih dari ekspansi 4,5% di periode sebelumnya. Meski begitu, bayang-bayang krisis properti yang masih berlangsung tetap jadi ancaman serius.
Kyle Chan, seorang analis dari Brookings Institution, menyoroti kinerja ekspor sebagai pahlawan utama.
"Ekspor, terutama untuk kendaraan dan produk manufaktur lainnya, masih menjadi pendorong yang kuat," ujarnya.
Tapi dia juga mengingatkan. Dampak penuh dari perang Iran kemungkinan besar belum tercermin di data kuartal ini. Gangguan pada rute perdagangan dan logistik berpotensi melemahkan pertumbuhan di kuartal-kuartal mendatang.
Di sisi lain, pemerintah China sendiri sedang punya agenda besar. Mereka berusaha keras merestrukturisasi ekonomi yang dihadapkan pada segudang masalah: konsumsi domestik yang lesu, populasi yang menyusut, plus krisis properti yang tak kunjung usai. Target dan rencana lima tahunan yang diumumkan Maret lalu menekankan investasi di sektor inovasi dan teknologi tinggi.
Faktor eksternal juga makin rumit. Selain krisis energi, ketegangan perdagangan global kembali memanas. Kebijakan tarif impor dari pemerintahan Donald Trump di AS masih jadi duri dalam daging. Saat ini, sebagian besar produk China kena bea masuk 10% di sana.
Namun begitu, ada secercah harapan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut tarif itu berpotensi dikembalikan ke level lama awal Juli nanti. Semuanya tergantung putusan Mahkamah Agung yang membatalkan beberapa kebijakan pajak impor. Momentum penting lain adalah pertemuan yang dijadwalkan antara Trump dan Presiden Xi Jinping di China bulan Mei mendatang.
Sementara itu, data perdagangan terbaru justru menampilkan sisi lain. Ekspor China pada Maret melambat signifikan, hanya tumbuh 2,5% secara tahunan. Angka ini terendah dalam enam bulan terakhir, jauh dari lonjakan lebih dari 20% pada periode Januari-Februari yang digabungkan karena penyesuaian Tahun Baru Imlek.
Yang menarik, impor justru melonjak hampir 28% di bulan yang sama. Akibatnya, surplus perdagangan bulanannya menyusut drastis jadi sedikit di atas US$50 miliar posisi terendah dalam setahun lebih.
Yixiao Zhou, pengajar ekonomi di Australian National University, punya penjelasan. Menurutnya, lonjakan nilai impor ini kemungkinan besar dipicu kenaikan biaya global akibat perang.
"Harga energi dan bahan baku melambung. Ancaman Iran terhadap kapal di Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah dan turunannya, seperti plastik, naik tajam," jelasnya.
Meski ketergantungan China pada minyak Teluk lebih rendah dibandingkan Jepang atau Korea, efeknya tetap terasa. Harga bahan bakar dalam negeri naik. Beberapa maskapai bahkan mulai memotong frekuensi penerbangan karena harga bahan bakar jet yang tak terkendali.
Zhou pesimis tren ini bisa bertahan. Konflik yang berkepanjangan, katanya, akan menekan kinerja ekspor jika konsumen global mengurangi belanja karena harga yang melambung.
"Pertumbuhan ekspor pada akhirnya bergantung pada kondisi ekonomi mitra dagang. Sulit untuk mempertahankan pertumbuhan pada tingkat yang sangat tinggi secara berkelanjutan," tandasnya.
Jadi, meski awal tahun ini memberi hasil yang menggembirakan, jalan di depan untuk ekonomi China masih dipenuhi rintangan. Dari dalam dan luar negeri.
Artikel Terkait
JPPI Desak Pemberhentian dan Pencabutan Gelar Guru Besar Unpad Terduga Pelaku Pelecehan
NO NA Rilis Single Rollerblade Jelang Tampil di Festival Head In The Clouds 2026
Jaksa Tuntut Mantan Pejabat Kemendikbud 6-15 Tahun Penjara atas Korupsi Chromebook Rp 2,1 Triliun
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Langsung Diwarnai Pelanggaran di Berbagai Front