Indonesia Siap Ekspor Pupuk Urea ke India, Pastikan Stok Dalam Negeri Aman

- Jumat, 17 April 2026 | 03:15 WIB
Indonesia Siap Ekspor Pupuk Urea ke India, Pastikan Stok Dalam Negeri Aman

Stok pupuk nasional kita ternyata lagi surplus. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dalam sebuah pertemuan di Kantor Kementerian Pertanian, Kamis lalu. Nah, kondisi surplus ini bukannya cuma jadi angka di laporan, tapi membuka pintu untuk ekspor. India disebut-sebut sebagai salah satu negara yang berminat.

Pertemuannya bukan sembarang pertemuan. Hadir juga Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, beserta jajaran dari Pupuk Indonesia Holding Company. Intinya, pembicaraan berjalan positif.

“Pada prinsipnya, pemerintah Indonesia siap untuk kita bisa ekspor urea ke India, karena perbedaan musim tanam membuat pasokan tetap aman di dalam negeri,” ujar Sudaryono.

Ia menegaskan, meskipun dunia sedang dilanda ketegangan geopolitik yang bikin rantai pasok global kacau, posisi kita justru kuat. Stok pupuk nasional benar-benar terjaga.

“Ini kan membuktikan bahwa kita punya ketahanan pupuk di tengah situasi perang ini, ketahanan pupuk kita kuat. Saya ingin menyampaikan kepada seluruh petani di Indonesia bahwa pupuk kita cukup dan tidak terpengaruh oleh kondisi perang, bahkan berlebih,” lanjutnya dengan nada meyakinkan.

Soal angka, kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia (Persero) saat ini mencapai 14,65 juta ton per tahun. Rinciannya, urea 9,36 juta ton, NPK 4,52 juta ton, ditambah ZA dan ZK. Dari jumlah sebanyak itu, ada potensi kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa dialihkan untuk ekspor. Tapi Sudaryono berulang kali menekankan, jangan khawatir, kebutuhan petani di dalam negeri tetap yang utama.

“Kita Indonesia akan mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses atau kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa kita ekspor ke luar negeri,” jelasnya.

Di sisi lain, Dubes India, Sandeep Chakravorty, menyambut baik peluang ini. Menurutnya, India siap membeli pupuk dari Indonesia, asal lewat skema kerja sama pemerintah ke pemerintah atau G2G.

“Ada permintaan dari India untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Bapak Wamentan telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah,” tutur Sandeep.

Sementara itu, dari internal perusahaan, Direktur Utama PIHC Rahmad Pribadi menggarisbawahi bahwa kebijakan ekspor ini nggak akan gegabah. Semua akan mempertimbangkan siklus musim tanam lokal.

“Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” tegas Rahmad.

Baginya, situasi surplus ini justru jadi momentum bagus. Indonesia bisa tampil lebih strategis, menjaga stabilitas pasokan pupuk di kawasan, bahkan membantu negara lain yang kekurangan.

“Ini membuktikan resiliensi Indonesia di tengah gejolak global. Di sektor industri pupuk, kita tidak rentan, justru bisa mengambil peran membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” tambahnya.

Lalu, seberapa aman stok kita saat ini? Rahmad menyebut angka 1,2 juta ton untuk stok saat ini. Ditambah lagi, produksi harian terus berjalan: sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK setiap harinya. Cukup? Sudaryono dan jajarannya bilang, lebih dari cukup.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar