BMKG Jelaskan Alasan Perubahan Angka Magnitudo Gempa dan Jenis-Jenisnya

- Kamis, 16 April 2026 | 12:05 WIB
BMKG Jelaskan Alasan Perubahan Angka Magnitudo Gempa dan Jenis-Jenisnya

Setiap kali BMKG mengumumkan ada gempa, pasti ada huruf 'M' dan angka di belakangnya. Huruf itu bukan sembarang singkatan, melainya merujuk pada Magnitudo. Intinya, itulah angka yang menunjukkan seberapa besar energi yang dilepaskan saat bumi berguncang.

Menurut penjelasan dari akun Instagram @infobmbmkg, Magnitudo itu dasarnya adalah skala logaritmik. Nilainya dihitung dari data sinyal seismik yang ditangkap alat perekam getaran atau seismograf. Namun begitu, ternyata Magnitudo punya beberapa jenis. Masing-masing punya karakter dan batasan sendiri dalam mengukur besaran energi sebuah gempa.

Meski jenisnya beragam, semua Magnitudo punya satu kesamaan: mereka pakai skala logaritmik untuk menetapkan satu nilai mutlak energi gempa. Jadi, angka yang kita lihat itu bukan asal tebak. Ada hitungan ilmiah di baliknya.

Kok Angka Magnitudo Bisa Berubah Sih?

Pernah lihat informasi gempa direvisi? Magnitudo yang awalnya M 5.0 tiba-tiba jadi M 5.3. Itu bukan berarti salah hitung, lho. Menurut sejumlah ahli di BMKG, parameter awal yang dirilis termasuk magnitudo adalah informasi dini. Tujuannya sederhana: kecepatan. Agar masyarakat bisa segera waspada.

Lalu kenapa bisa berubah? Begini penjelasannya.

Di menit-menit pertama gempa, hanya seismograf di sekitar pusat gempa yang menangkap sinyal. Datanya masih sangat terbatas. Lambat laun, seismograf yang letaknya lebih jauh mulai ikut merekam getaran yang sama.

Nah, semakin banyak data yang masuk dari berbagai alat di penjuru wilayah, analisisnya jadi semakin matang. Sistem perhitungan pun punya bahan yang lebih lengkap untuk menghasilkan angka yang lebih akurat. Singkatnya, informasi pertama itu untuk kewaspadaan cepat. Sementara pembaruan atau update berikutnya adalah hasil analisis akhir yang jauh lebih presisi.

Jadi bisa disimpulkan begini:

  • Magnitudo awal: Fungsinya memberi peringatan cepat. Biar kita semua sigap.
  • Magnitudo update: Ini data yang sudah diperhalus. Lebih tepat karena datanya sudah komplet.

Mengenal Ragam Jenis Gempa Bumi

Guncangan bumi itu nggak cuma satu jenis. Penyebab dan kedalamannya berbeda-beda, dan itu mempengaruhi dampaknya. Secara umum, gempa biasa terjadi karena pergerakan lempeng bumi atau aktivitas gunung api. Tapi rinciannya lebih kompleks dari itu.

Kalau dilihat dari penyebabnya, gempa bisa dibagi tiga:

  • Gempa Vulkanik. Sesuai namanya, ini dipicu oleh aktivitas gunung berapi, baik sebelum, selama, ataupun setelah letusan.
  • Gempa Tektonik. Ini jenis yang paling sering kita dengar dan biasanya paling kuat. Penyebabnya adalah pergeseran lempeng bumi atau patahan yang melepaskan energi besar di zona penunjaman.
  • Gempa Runtuhan. Guncangan yang skalanya lebih lokal, misalnya karena longsor besar atau atap gua yang ambruk. Dampaknya relatif kecil dan jangkauannya tidak luas.

Sementara berdasarkan kedalamannya, ada tiga kategori lagi:

  1. Gempa Dalam. Pusat gempa atau hiposentrumnya berada lebih dari 300 km di bawah permukaan. Gempa jenis ini biasanya kurang terasa dan risikonya lebih rendah.
  2. Gempa Menengah. Hiposentrumnya ada di kedalaman 60 hingga 300 km. Getarannya lebih terasa dan bisa menimbulkan kerusakan ringan.
  3. Gempa Dangkal. Ini yang paling berpotensi bahaya. Pusat gempanya sangat dekat dengan permukaan, kurang dari 60 km. Energinya langsung merambat ke atas, sehingga sering menimbulkan kerusakan yang signifikan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar