Bulog Kaji Peluang dan Risiko Bangun Gudang Pangan di Arab Saudi

- Rabu, 15 April 2026 | 21:00 WIB
Bulog Kaji Peluang dan Risiko Bangun Gudang Pangan di Arab Saudi

Jakarta – Wacana Bulog membangun gudang di Arab Saudi bukan sekadar berita biasa. Langkah ini, jika terwujud, berpotensi mengubah total pola distribusi pangan kita ke sana. Tentu saja, ada banyak keuntungan yang bisa diraup perusahaan pelat merah itu. Tapi, jangan salah, risikonya juga nggak main-main.

Menurut pengamat pertanian Core Indonesia, Eliza Mardian, skema semacam ini punya daya tarik yang jelas. Pengiriman bisa dilakukan dalam skala besar, yang otomatis menekan biaya darurat. Kontrol kualitas pun lebih mudah dilakukan. “Namun begitu,” katanya, “keuntungan itu harus dibayar dengan biaya tetap yang tinggi.” Mulai dari investasi lahan, operasional harian gudang, sampai biaya penyimpanan yang terus menggerus.

Eliza menilai proyek ini sebenarnya realistis. Hanya saja, risiko dalam eksekusinya sangat besar. Di satu sisi, ada sinyal positif. Ekspor perdana beras ke Saudi sudah jalan, dukungan lahan berpotensi ada, dan dorongan politik dari pemerintah terasa kuat.

“Tapi tantangan strukturalnya juga besar, mulai dari regulasi ketat pemerintah Arab Saudi, kompleksitas koordinasi lintas lembaga seperti Kementerian Agama dan penyedia katering, hingga potensi ketidaksesuaian kapasitas Bulog sebagai lembaga yang selama ini berfokus pada stabilisasi pangan domestik,” jelas Eliza, Rabu (15/4/2026).

Baginya, proyek ini baru akan benar-benar layak kalau dikembangkan sebagai strategi jangka panjang. Bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan musim haji, tapi juga menjangkau pasar umrah dan diaspora Indonesia yang cukup besar di sana.

Di sisi lain, pandangan serupa datang dari Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti. Dia melihat peluang yang menggiurkan. Keberadaan gudang bisa menjamin ketersediaan beras berkualitas untuk jemaah, memangkas inefisiensi logistik, dan yang menarik, membuka pintu ke pasar ritel internasional di Arab Saudi.

“Bisa membuka peluang ekspor ke pasar umum Arab Saudi karena adanya minat dari ritel besar di sana,” ujar Esther.

Meski demikian, dia mengingatkan untuk tidak menutup mata pada sederet risiko. Biaya operasional di Timur Tengah terkenal tinggi. Lalu ada ancaman keamanan yang fluktuatif akibat konflik regional. Belum lagi tantangan teknis menjaga kualitas beras dalam penyimpanan jangka panjang.

Indef juga mencatat risiko logistik yang rumit, kebijakan impor Saudi yang bisa berubah sewaktu-waktu, dan yang paling mengkhawatirkan: penumpukan stok kalau pasar tidak menyerap dengan optimal.

“Risiko lainnya mencakup ketidakpastian politik/perang, biaya logistik tinggi, potensi penolakan buyer, serta keterbatasan kapasitas gudang dan gangguan pasokan global,” pungkas Esther.

Lantas, bagaimana kesiapan Bulog? Direktur Utamanya, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut mereka sudah mengantongi izin prinsip dari Kementerian Haji dan Umrah Saudi. Gudang berkapasitas 1.000 ton itu rencananya dibangun di kawasan Kampung Haji, dengan lahan cadangan seluas 2-3 hektare.

Rencananya, fasilitas ini nggak cuma untuk nyimpen beras. Ia akan difungsikan sebagai pusat logistik untuk berbagai komoditas pangan. Saat ini, proyeknya memang belum masuk tahap pembukaan lahan. Tapi yang menarik, gudang ini nanti direncanakan berstatus kawasan berikat. Artinya, bebas pajak. Sebuah insentif yang pasti dipertimbangkan matang-matang di tengah segala peluang dan tantangan yang mengintai.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar