Gelombang Perang Siber Timur Tengah Ancam Ketahanan Digital Indonesia

- Rabu, 15 April 2026 | 11:25 WIB
Gelombang Perang Siber Timur Tengah Ancam Ketahanan Digital Indonesia

Kedua, koordinasi antarlembaga masih terasa fragmentasi. Meski BSSN sudah berdiri, kolaborasinya dengan Kemenkominfo, Bank Indonesia, dan sektor privat belum benar-benar optimal. Berbagi informasi soal indikator serangan dari konflik Timur Tengah seringkali telat sampai.

Ketiga, kesadaran keamanan siber di tingkat pengguna dan UKM masih minim. Mayoritas serangan justru menyasar sektor swasta dan individu. Tanpa budaya cyber hygiene yang baik, Indonesia akan terus jadi pintu masuk termudah bagi peretas global.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Sikap isolasionis jelas bukan jawaban. Indonesia perlu langkah proaktif dan adaptif.

Pertama, penguatan diplomasi siber di forum multilateral seperti ASEAN dan PBB. Indonesia bisa mendorong pembuatan norma perilaku di dunia maya, termasuk larangan menyerang infrastruktur sipil.

Kedua, menyusun Strategi Ketahanan Siber Nasional yang spesifik menangani dampak konflik yang meluas. Strategi ini perlu mencakup sistem peringatan dini yang terhubung dengan intelijen ancaman global, simulasi skenario serangan, dan cadangan infrastruktur di dalam negeri.

Ketiga, meningkatkan literasi digital berbasis ancaman aktual. Kampanye tentang modus phishing dan disinformasi bertema konflik global harus digencarkan, bukan hanya isu nasional.

Keempat, memberikan insentif bagi perusahaan untuk mengadopsi arsitektur zero-trust. Pendekatan "jangan percaya siapa pun" ini menjadi keharusan bagi sektor-sektor kritis seperti perbankan dan energi, mengingat ancaman bisa datang dari mana saja, termasuk rantai pasok global.

Pada akhirnya, perang Iran versus Israel-AS telah membuka babak baru peperangan asimetris di dunia maya. Indonesia, meski bukan pihak yang bertikai, merasakan dampaknya: serangan kolateral, malware yang makin ganas, dan disinformasi yang memecah belah. Ketahanan digital kita masih rentan, digugat oleh ketergantungan teknologi asing, koordinasi yang lemah, dan kesadaran publik yang rendah.

Kita butuh strategi nasional yang proaktif, bukan cuma reaktif. Mulai dari diplomasi siber, peningkatan infrastruktur, hingga penguatan budaya keamanan digital. Tanpa langkah nyata, Indonesia berisiko terus menjadi medan perang tidak langsung yang mudah dieksploitasi setiap kali konflik digital global memanas.

Hendra Manurung.
Dosen Tetap Prodi Magister Diplomasi Pertahanan Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan RI (UNHAN RI).

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar