Israel dan Lebanon Sepakat Mulai Negosiasi Langsung, Mediasi AS

- Rabu, 15 April 2026 | 04:55 WIB
Israel dan Lebanon Sepakat Mulai Negosiasi Langsung, Mediasi AS

Menurutnya, Israel dan Lebanon bersatu dalam satu tujuan: membebaskan Lebanon dari cengkeraman Hezbollah.

Di sisi lain, pernyataan dari Duta Besar Lebanon, Nada Hamadeh Moawad, terdengar lebih berhati-hati. Ia menyebut pertemuan itu "konstruktif", tak lebih. Namun begitu, ia langsung menekankan poin-poin krusial: seruan untuk gencatan senjata dan penegasan kedaulatan penuh Lebanon atas seluruh wilayahnya.

Latar belakangnya memang rumit. Secara teknis, kedua negara ini masih dalam keadaan perang selama beberapa dekade. Dan pembicaraan damai ini langsung mendapat penolakan keras. Hezbollah, kelompok militan Lebanon, merespons dengan meluncurkan roket ke lebih dari selusin kota di Israel utara. Serangan itu terjadi tepat saat pertemuan di Washington dimulai, seperti sebuah peringatan.

Kepentingan AS dalam hal ini jelas. Washington mendorong penghentian konflik Israel-Hezbollah karena khawatir gelombang pertempuran bisa merusak gencatan senjata yang sudah diupayakan dengan Iran. Apalagi pembicaraan dengan Teheran di Pakistan sebelumnya mentok, tanpa terobosan berarti.

Peran Hezbollah dalam konflik ini sentral. Lebanon sendiri seolah terseret ke dalam konflik yang lebih luas setelah Hezbollah menyerang Israel untuk mendukung Iran. Serangan itu memicu balasan dahsyat: invasi darat dan serangan Israel yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengusir lebih dari satu juta penduduk dari rumah mereka.

Saat ini, pasukan Israel masih menduduki sebagian wilayah selatan Lebanon. Pemerintah Israel bersikukuh: tak akan ada gencatan senjata sebelum Hezbollah dilucuti.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mencoba merangkum posisi negaranya. Israel menginginkan "perdamaian dan normalisasi" dengan Lebanon, katanya. Tapi ada satu masalah besar yang harus diselesaikan lebih dulu: Hezbollah.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar