“Untuk itu saya ingin sekali mohon maaf. Saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya kalau ada ucapan-ucapan atau perilaku saya pada saat menjadi Menteri yang tidak berkenan,” tutur pendiri Gojek itu.
Tujuh bulan terpisah dari keluarga, dari anak dan istri, diakuinya sebagai ujian hidup terberat. Namun begitu, ia tak sepenuhnya terjebak dalam keputusasaan. Di balik jeruji, justru muncul kekuatan baru. Ia banyak membaca, merenung, dan mengambil pelajaran dari kisah para tokoh sejarah Indonesia yang pernah mengalami pengorbanan serupa.
“Hal itu memberikan saya kekuatan, memberikan saya inspirasi,” ujarnya.
“Dan itulah alasan kenapa bahkan dalam situasi terpuruk seperti ini, saya masih optimis.”
Di akhir pernyataannya, nada suaranya kembali tegas. Seolah ingin menegaskan sesuatu yang lebih prinsipil dari sekadar pembelaan diri.
“Saya masih mencintai negara saya, saya percaya ujungnya keadilan itu masih menjadi asas dasar dari negara Indonesia yang saya cintai ini,” pungkas Nadiem.
Pernyataannya selesai. Ia lalu berpaling dan kembali masuk ke dalam gedung pengadilan, meninggalkan kesan yang rumit: seorang inovator yang belajar keras tentang arti politik dan budaya, dari tempat yang paling tak terduga.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Gelar Rapat Khusus Tangani Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Hakim Batalkan Status Tersangka dan Hentikan Penyidikan KPK terhadap Sekjen DPR
DPR Soroti Blokade AS di Selat Hormuz, Peringatkan Risiko Eskalasi Global
Menteri Bappenas Soroti Inovasi Bahan Bakar Sawit dari Kampus untuk Dukung B50