Nah, soal pelatihan, Agrinas sudah menyiapkan program berjenjang. Setiap koperasi nantinya akan punya dua wakil kepala unit. Mereka inilah yang akan dapat pelatihan intensif selama 10 hingga 12 hari. Setelah itu, giliran mereka yang melatih sekitar 15-16 tenaga operasional di tingkat desa.
"Sistem ini berbasis digital dengan standar operasional yang terukur. Kinerja akan dimonitor, sehingga koperasi tetap berjalan optimal dan akuntabel,"
tambah Joao mengenai mekanisme pengawasannya.
Secara sistem, alur distribusinya dirancang cukup rapi. Semua pengelolaan arus barang dikendalikan dari kantor pusat Agrinas. Dari sana, barang dari produsen dikirim ke pusat distribusi, lalu diteruskan ke koperasi desa untuk dijual. Fungsi koperasi tidak cuma jualan. Mereka juga akan mengumpulkan hasil produksi lokal, seperti panen warga. Tujuannya jelas: memotong mata rantai distribusi yang biasanya panjang, dan akhirnya bisa menekan harga di tingkat desa.
Dari segi kelembagaan, seluruh warga desa diajak untuk jadi anggota koperasi secara partisipatif. Mayoritas keuntungan yang didapat akan dikembalikan lagi untuk kepentingan desa. Agrinas sendiri berkomitmen mendampingi selama dua tahun masa transisi. Setelah itu, pengelolaan akan diserahkan sepenuhnya ke tangan koperasi desa.
Menanggapi kesiapan lapangan, Agus Jabo melihat sinyal positif. Beberapa daerah ternyata sudah mempersiapkan infrastrukturnya.
"Di beberapa wilayah, bangunan koperasi sudah siap. Ini menjadi modal penting agar program segera berjalan dan memberi manfaat,"
kata Agus Jabo.
Jadi, tinggal menunggu eksekusinya saja. Apakah program yang ambisius ini bisa berjalan mulus sesuai harapan? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
PSI Buka Pintu Lebar untuk Tokoh Nasional Perkuat Struktur Daerah
Dua Pengamen di Serang Ditangkap Polisi Jual Motor Curian lewat WhatsApp
Jadwal Salat Hari Ini di Bandung, Imsyak Pukul 04.23 WIB
KPK Periksa Pejabat Badilum MA Terkait Mutasi Hakim Tersangka Korupsi